Penataan Kawasan Wisata Religi Setono Dimatangkan, Dorong Ekonomi Kreatif Ponorogo

Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar Final Expose Readiness Criteria Skala Kawasan Terpadu dan Terintegrasi Setono, Kamis (31/7), bertempat di Pringgitan Belakang. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi besar pengembangan kawasan wisata religi yang menyatu dengan penguatan ekonomi kreatif lokal.
Dalam kegiatan yang dihadiri Bupati Ponorogo Kang Sugiri Sancoko, perwakilan Pemprov Jatim, serta berbagai OPD teknis, dibahas langkah-langkah konkret untuk penataan kawasan Setono secara menyeluruh mulai dari penataan infrastruktur, penguatan fungsi kawasan, hingga integrasi antar-instansi dan wilayah.
Bupati Sugiri menegaskan bahwa Setono memiliki nilai sejarah yang penting, sebab di kawasan ini dimakamkan pendiri Kabupaten Ponorogo. Karena itu, menurutnya, pengembangan wisata religi merupakan hal yang strategis dan prioritas dalam konteks pembangunan daerah.
“Setono ini kan di situ dimakamkan pendiri Ponorogo. Memang saya agak tarik ke belakang. Wisata religi menjadi sangat penting di Ponorogo karena kami ini tidak punya pemikat yang lain. Ponorogo ini harus mengeksplor sesuatu yang kita miliki budaya dan beberapa tempat-tempat wisata di sini harus kita kunjungi, salah satunya Setono,” ujar Kang Giri.
Ia menambahkan bahwa untuk mewujudkan kawasan yang benar-benar hidup dan berkelanjutan, pembangunan tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada kolaborasi lintas level pemerintahan agar penyelesaian kawasan tidak hanya separuh jalan.
“Mimpi besar kami kemarin kami sodorkan, dan kita memang harus ada ide untuk bagaimana membangun mengentaskan sebuah kawasan dengan cara kolaborasi. Pusat hadir, kemudian provinsi hadir, kemudian kabupaten juga hadir. Sehingga tuntasnya tidak sekadar sepotong-sepotong,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan tonggak awal dari rangkaian besar penataan kawasan. Fokus awalnya adalah pembenahan lingkungan, yang kemudian akan dilanjutkan dengan strategi pengembangan ekonomi kreatif.

“Sekarang ini tahapannya adalah bagaimana kita memproduksi lingkungannya. Ke depan, apa yang diaturkan oleh kolawau nanti akan kita laksanakan termasuk bagaimana kita menjual kawasan ini sebagai destinasi wisata,” jelas Judha.
Ia juga menyinggung penataan Kampung Sate di kawasan tersebut, yang ke depan akan diarahkan menjadi sentra kuliner sekaligus pusat penjualan langsung hasil produksi warga.
“Mereka ini hanya rumah produksi, sehingga selama ini menjualnya ke luar. Nantinya kita prospek agar mereka menjual produknya langsung di situ melalui gerai-gerai. Penataan ini juga termasuk transportasi wisata. Kita rencanakan penggunaan kendaraan listrik agar kawasan ini menjadi green tourism,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Judha menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan. Dengan penataan kawasan yang menyeluruh dan berwawasan lingkungan, dampak positif terhadap pelaku UMKM, pengrajin, dan pelaku wisata lokal diharapkan semakin nyata.
“Setelah ini terealisasi, kita akan menggerakkan ekonomi kreatifnya. Mulai dari merchandise, oleh-oleh, hingga kulinernya. Semuanya harus memberi dampak bagi masyarakat sekitar. Inilah wisata yang berbasis lingkungan sekaligus pemberdayaan,” pungkasnya.
Kawasan Setono kini diproyeksikan menjadi destinasi unggulan Ponorogo, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ziarah, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif yang terintegrasi dan ramah lingkungan.