Buka Technical Meeting, Judha Tegaskan Komitmen Pada FNRP XXX

Published by disbudparpora on

Suasana akrab dan penuh semangat menyelimuti Gedung Kesenian Ponorogo, Rabu (11/6/2025), saat digelar Technical Meeting Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-30. Dalam pertemuan teknis yang diikuti 41 perwakilan grup reog dari berbagai penjuru Indonesia ini, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menyampaikan sejumlah pesan penting.

Di hadapan para peserta, Judha menunjukkan keakraban dan perhatian mendalam terhadap tiap perwakilan grup. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan Grebeg Suro kini kian mandiri dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Grebeg Suro saat ini sudah mulai mandiri. Dari kebutuhan 5,7 miliar rupiah, dari APBD hanya memberikan modal 350 juta. Sedangkan sisanya dicarikan dari sponsor & sumber lainnya,” jelas Judha.

Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa menjunjung tinggi semangat kebersamaan untuk menyukseskan gelaran Grebeg Suro 2025.

“Saya tak mikir sasana untuk berlomba, jenengan mikirne kagem mbudhalne ten Ponorogo,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh peserta, apalagi dalam konteks bahwa tahun ini menjadi momen bersejarah: Grebeg Suro pertama setelah Reog Ponorogo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada tahun 2024.

“Mari kita kobarkan semangat ini bersama. Setelah reog diakui oleh ICH UNESCO, kita semua punya tanggung jawab lebih besar untuk merawat dan mengembangkan,” ajak Judha.

Lebih lanjut, ia menyoroti peran Padepokan Reog sebagai ruang perjuangan sekaligus rumah bersama bagi para seniman reog. Sehingga dalam kegiatan Technical Meeting kali ini, pihaknya memilih tempat di Padhepokan Reog Ponorogo.

“Padepokan ini tempatnya nyaman dan luas. Ini tempat kita berjuang bersama untuk Reog Ponorogo,” ungkapnya.

Judha juga menyampaikan bahwa generasi muda kini telah menjadi tulang punggung kebangkitan Reog. Hal itu tercermin dari antusiasme anak-anak muda dari berbagai daerah dalam melestarikan kesenian tradisional ini.

“Tema warna dari FNRP tahun ini adalah warna neon yang melambangkan semangat muda. Karena memang Reog sekarang digandrungi anak-anak muda dari penjuru dunia,” tambahnya.

FNRP XXX sendiri mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah penampilan. Jika idealnya ada 36 grub yang terbagi dalam 8 penampilan dalam semalam, kini menjadi 10 penampilan dalam satu malam. Hal ini dinilai sebagai bukti nyata meningkatnya antusiasme dan minat masyarakat terhadap kesenian Reog Ponorogo.

“Reog datang dari segala penjuru utara, selatan, barat, hingga timur dan semuanya berkumpul di Ponorogo. Festival ini akhirnya meledak jadi FNRP yang terbesar,” kata Judha dengan semangat.

Dalam kesempatan tersebut, Judha tak lupa mengajak seluruh perwakilan dari luar daerah, seperti Jakarta, Palembang, Surabaya, hingga Papua untuk terus menjaga kesinambungan dan regenerasi seniman reog di daerah masing-masing.

“Saya berharap ada transmisi yang berjenjang, agar reog tidak punah. Kita butuh regenerasi, dan itu bisa dimulai dari teman-teman yang hadir di sini,” tutupnya.

Technical Meeting ini menjadi momen penting bagi para peserta untuk memahami teknis pelaksanaan festival sekaligus memperkuat semangat kolaborasi. Grebeg Suro 2025 diyakini akan menjadi tonggak sejarah baru, tidak hanya bagi Ponorogo, tapi juga bagi Indonesia di mata dunia.

Dalam perayaan Grebeg Suro 2025 ini, Disbudpapora Ponorogo bekerjasama dengan Event Organizer Menjaga Bumi Project yang berasal dari Bandung.

Categories: BudayaUmum

Buka Technical Meeting, Judha Tegaskan Komitmen Pada FNRP XXX – Disbudparpora Ponorogo