Grebeg Suro 2025 Menarik Minat Wisatawan Asal Luar Daerah Hingga Luar Negeri

Acara pembukaan Grebeg Suro 2025 mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Ribuan penonton tumpah ruah di lokasi acara, Alun-alun Ponorogo sejak awal hingga pengujung acara yang berlangsung pada Selasa (17/6/2025) malam.
Tak hanya dari wilayah Ponorogo, penonton juga datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Seorang penonton asal Medan bernama Ali Husin (49) mengaku sengaja datang jauh-jauh dari Sumatera Utara untuk menyaksikan pertunjukkan Reog Ponorogo di Grebeg Suro 2025.
“Sengaja datang karena baru bisa tahun ini. Reog Ponorogo itu terkenal sampai Medan. Ada ciri yang seperti barongsai Cina tapi dia asli dari adat Jawanya sendiri jadi ada semangat kekhasannya itu jarang,” katanya saat ditemui di lokasi.
Sebagai bangsa Indonesia, dia mengaku turut bangga dengan kesenian Reog Ponorogo yang sudah mendunia. Oleh karena itu, dia mendukung kesenian tersebut diajukan menjadi Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO.
Ali pun berharap kegiatan serupa terus diselenggarakan di Ponorogo untuk melestarikan budaya tradisional asli Indonesia. Menurutnya, kegiatan seperti itu juga seharusnya diadakan di daerah lain dengan mengusung kesenian khas masing-masing.
“Harapannya, kita sebagai bangsa yang besar, bisa membangkitkan kebudayaan leluhur kita seperti Reog Ponorogo di Ponorogo. Jadi, Ponorogo mempunyai satu budaya leluhur yang bisa dihargai. Menghargai budaya berarti menghargai warisan leluhur negara Indonesia,” tuturnya.

Antusiasme penonton terbayar tuntas dengan pertunjukkan yang disajikan secara apik dalam Grebeg Suro kali ini. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko mengakui acara kali ini terasa berbeda karena dimeriahkan berbagai pertunjukkan memadukan seni tradisional dan kontemporer yang menarik semua kalangan.
Nuansa tradisional terlihat dari alunan musik gamelan yang mengiringi tarian khas daerah tersebut. Termasuk, dari Reog Ponorogo sebagai pertunjukkan utama yang sukses menyedot perhatian ribuan penonton di depan panggung.
Adapun, kesan modern ditunjukkan dari dekorasi panggung berupa sorotan video mapping yang dinamis dan futuristik. Tampilan panggung juga dihiasi instalasi lampu digital yang atraktif mengikuti tensi musik dan tarian di sepanjang pertunjukkan.
Setelah melihat keseluruhan penampilan, Sugiri mengaku cukup terpukau dan optimistis dengan tujuan dari acara kali ini. “Kami mencoba masuk ke generasi muda agar akselerasi budaya, transmisi budaya dan kaderisasi bisa terjaga dengan baik,” ujarnya.