Grebeg Suro 2025 Resmi Dibuka, Ponorogo Tampilkan Inovasi & Terima Penghargaan Berkelas Dunia

Perayaan Grebeg Suro 2025 resmi dibuka pada Selasa malam, 17 Juni 2025, dengan kemasan baru yang memadukan teknologi dan tradisi. Salah satu daya tarik utama adalah pertunjukan video mapping dipadu dengan cyberlight yang melengkapi penggunaan videotron. Inovasi ini menjadi langkah strategis untuk menarik minat generasi muda terhadap kesenian dan budaya Reog Ponorogo.
Bupati Sugiri Sancoko menyampaikan bahwa penggunaan video mapping merupakan upaya mengemas budaya dengan cara yang lebih kekinian.
“Kami mencoba memadukan teknologi dalam pentas budaya. Harapannya, anak-anak muda bisa lebih tertarik dan terinspirasi untuk mengembangkan budaya adiluhung. Tidak hanya untuk membangun karakter bangsa, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
la juga berharap ke depan Grebeg Suro bisa digelar lebih panjang dari 10 hari menjadi 15 hari atau bahkan sebulan penuh agar gaungnya semakin luas. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, mengungkapkan apresiasinya terhadap peningkatan partisipasi dalam perayaan tahun ini.

“Jumlah peserta Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) meningkat dari 37 menjadi 41 grup. Reog Remaja juga diikuti 24 grup dari SMP sederajat se-Ponorogo yang berangkat secara mandiri. Ini bukan sekadar event, tapi bagian dari skema pelestarian budaya,” jelasnya.
Judha menegaskan bahwa Reog bukan hanya kebanggaan lokal, tetapi juga telah menjadi ikon budaya Indonesia yang mendunia. Reog membawa nilai-nilai luhur seperti kegotongroyongan, kesetaraan gender, hingga pendidikan karakter.
Ponorogo, lanjutnya, saat ini juga sedang dalam proses pengajuan sebagai anggota jejaring Kota Kreatif Dunia UNESCO (UCCN), yang diharapkan dapat membuka kerjasama internasional di sektor ekonomi kreatif.
“Kalau kita sudah masuk dalam UCCN, maka peluang kerjasama antarnegara dalam jejaring akan semakin besar. Ponorogo bisa menjadi pusat pelatihan Reog dari negara-negara di Eropa, Asia Timur, hingga Amerika,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Staf Ahli Menteri Kebudayaan, Mpu Basuki Teguh Yuwono, S.Sn., M.Sn, yang hadir dalam seremoni pembukaan.
“Ini adalah hasil kerja keras seluruh elemen, dari pemerintah daerah hingga komunitas seni. Pengakuan UNESCO menjadi langkah awal, tugas berikutnya adalah membumikan Reog di tengah masyarakat,” ungkapnya.
la menilai bahwa Ponorogo telah mampu menciptakan pola pewarisan budaya yang sangat baik, terbukti dari keterlibatan generasi muda hingga senior dalam setiap pentas Reog.

“Karya-karya seniman Reog terus bertransformasi, tapi tetap menjaga pakem dan nilai-nilai budaya. Ini menunjukkan daya hidup Reog masih sangat kuat,” tandasnya.
Dalam seremoni pembukaan yang berlangsung meriah, juga diserahkan sertifikat pengakuan Reog sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO dari Staf Ahli Menteri Kebudayaan Mpu Basuki Teguh Yuwono, S.Sn., M.Sn., kepada Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, S.E., M.M. Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa Reog telah mendunia dan mendapat pengakuan internasional sebagai bagian penting dari warisan budaya dunia yang harus senantiasa dilestarikan.
Pembukaan Grebeg Suro 2025 menjadi titik awal dari rangkaian perayaan budaya yang akan digelar selama lebih dari sepekan. Dengan kemasan baru yang memadukan teknologi modern dan nilai-nilai tradisional, perayaan ini tak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo, tapi juga bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional.