Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Konservasi Merak Hijau Bakal Penuhi Kebutuhan Pelestarian Reyog

Konservasi Merak Hijau Bakal Penuhi Kebutuhan Pelestarian Reyog

Ponorogo – Berbicara Reyog memang tiada habisnya. Kesenian budaya adiluhung asli Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini memukau seluruh mata penduduk dunia. Untuk terus menjaga pesona Reyog, berbagai macam cara dilakukan agar Reyog terus lestari. Dan kali ini, melalui sinergitas konservasi merak hijau dan plasma Reyog Ponorogo, Yayasan Reyog Ponorogo gandeng Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Yayasan Konservasi Elang Indonesia, Pertamina Fuel Terminal Madiun dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) coba berkolaborasi mengembangkan penangkaran merak hijau.

Budi Warsito Ketua Umum Yayasan Reyog Ponorogo mengatakan sebenarnya sudah banyak upaya-upaya untuk mengganti atau substitusi untuk kepala Reyog dengan tidak menggunakan kulit Harimau dengan kulit sapi. Kulit sapi, dibatik atau dilukis sedemikian rupa supaya mirip kulit harimau.

“Jadi untuk kulitnya harimau, tidak terlalu sulitlah karena masih bisa ada jalan dan bisa dilakukan. Jadi banyak yang dijual itu bukan asli harimau, tapi mirip,” katanya kepada Jurnalis Disbudparpora usai pagelaran Reyog, Sinergitas Konservasi Merak Hijau dan Plasma Reyog Ponorogo, di Padepokan Reyog Ponorogo, Jl Pramuka No 19 A, Ponorogo, Sabtu (19/12/2020).

Budi mengungkap untuk penyediaan merak sabagai obyok Reyog banyak peternak merak yang menyediakan bulu merak dan tidak hanya di Ponorogo saja. Ada dari berbagai kawasan lain dan importir bulu merak.

“Kami sering diajak namun seperti tadi saya ceritakan kami belum siap karena kami baru setengah tahun (Jabatan masa kepengurusan) dan karena Yayasan Reyog bukan badan usaha melainkan badan hukum. Sesuai saran dari pusat kami disuruh membuat badan usaha. Minggu-minggu ini, Insya Allah, di bulan Desember, akan kita bentuk,” jelasnya.

Senada dengan Yayasan Reyog, Yayasan Konservasi Elang Indonesia bakalan mendukung Yayasan Reyog dalam mengembangkan konservasi merak hijau di Bumi Reyog.

“Yang pertama kita sudah mempelajari ada orang yang berhasil melakukan penangkaran dan kita mencoba mereplikasi itu. Terus kemudian kita coba menghitung, maka dibutuhkan lebih dari 20 penangkar dengan kapasitas pejantan lebih dari 15 ekor untuk bisa memenuhi kebutuhan bulu merak di Ponorogo saja,” papar Gunawan Ketua Yayasan Konservasi Elang Indonesia.

Gunawan menjelaskan untuk di Ponorogo sendiri sementara pihaknya sudah membuat penangkaran kecil-kecilan di desa Seketip. Kemudian menyiapkan fasilitas-fasilitas yang lain dan mengurus izin dan akan mendatangkan indukan dari Madiun.

“Harapan kami nantinya semua bisa berjalan beriringan tidak hanya budayanya tapi juga satwa liarnya,” tegasnya.

Sementara itu, Yuri Ristanto, Pertamina Fuel Terminal Manager Madiun mengemukakan sinergitas tersebut merupakan singgungan program integrasi program Corporate Sosial Responbility (CSR) dari terminal Pertamina yang ada di Surabaya.

“Kami berkoordinasi dengan komrel kami sebagi wadah yang mengkoordinasi program-program yang harus kami jalankan di CSR, dilokasi-lokasinya dan kami tahun ini masih di perbolehkan untuk ikut dalam membangun konservasi di area Ponorogo ini,”ungkapnya.

Untuk konservasi merak hijau, dari pihak Fuel Terminal Surabaya sendiri sudah ada, lanjutnya, karena merak hijau sendiri termasuk merak lokal Indonesia.

“Kedepan melalui konservasi kami, penggunaan bulunya yang secara pereode tertentu rontok sendiri. Itu bisa digunakan sebagai bahan lokal dari Reyog Ponorogo,” ujarnya.

Dengan adanya sinergitas tersebut pihak Disbudparpora sangat mendukung dan akan terus mengawal penuh jalannya pelestarian Reyog dan segala upaya dari Yayasan Reyog.

“Terkait dengan acara ini, memang disana ada ada sinergitas konservasi merak hijau. Mereka mengundang salah satunya dari BKSDA, Yayasan Konservasi Elang Indonesia dan Pertamina. Dengan adanya kerjasama itu, menambah keyakinan untuk kedepan pihak yayasan untuk pengadaan Reyog ini tidak ada masalah dikemudian hari,” pungkas Bambang Wibisono Sekertaris Disbudparpora Ponorogo.

Share This: