Ponorogo – Kepala DISBUDPARPORA Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, S.Sos., M.Si., mengajak seluruh pihak untuk bersinergi agar tradisi Longkangan terus berkembang menjadi event yang lebih besar dan menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo. Ia menekankan bahwa tidak semua desa memiliki tradisi seperti ini, sehingga pelestariannya menjadi penting.
Longkangan merupakan tradisi bersih-bersih sumber air yang telah dilaksanakan secara turun-temurun. Kepala Disbudparpora menekankan pentingnya pembentukan lembaga adat desa sebagai garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan tradisi serta nilai-nilai budaya yang ada. Keberadaan lembaga ini diharapkan dapat memperkuat identitas budaya desa sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Tradisi Longkangan dilaksanakan setiap bulan Dzulqa’dah (Selo), dengan waktu pelaksanaan disesuaikan arah sumber air: barat pada Pasaran Pon, utara pada Wage, tengah pada Kliwon, timur pada Legi, dan selatan pada Pahing. Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi wujud syukur masyarakat dan harmoni manusia dengan alam. Selain menjaga kebersihan sumber air, Longkangan menjadi sarana untuk merawat warisan budaya dan memperkuat nilai-nilai kearifan lokal.

Kehadiran Plt. Bupati Ponorogo dalam rangkaian kegiatan, yang akrab disapa Bunda Lis, juga menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi. Ia menyerap aspirasi warga sekaligus mengunjungi stand UMKM Desa Senepo sebagai bentuk dorongan terhadap pelaku usaha lokal.
Longkangan membuktikan bahwa tradisi lokal dapat hidup selaras dengan perkembangan zaman, sambil tetap menjaga lingkungan dan memperkuat identitas budaya masyarakat Ponorogo.