Summer School ke-5, Unair Ajak 192 Mahasiswa dari 36 Negara Nikmati Pesona Alam dan Budaya Ponorogo

Published by disbudparpora on

Pesona budaya dan alam Kabupaten Ponorogo kembali menyihir perhatian dunia. Dalam rangkaian program Summer School ke-5 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, sebanyak 192 mahasiswa dari 36 negara mengunjungi Bumi Reog dan mengaku terpukau oleh keindahan serta kekayaan tradisinya.

Para peserta yang berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Pakistan, hingga Tanzania itu tiba di Ponorogo pada Jumat (4/7/2025). Mereka disambut langsung oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko di Pendopo Kabupaten, tempat di mana mereka disuguhi pertunjukan Reog Ponorogo yang ditampilkan oleh grup Reog Kridha Taruna dari SMAN 2 Ponorogo. Penampilan para pelajar tersebut berhasil mencuri perhatian dan memukau para tamu internasional dengan semangat muda yang tetap menjaga keaslian warisan budaya.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menegaskan bahwa kehadiran para mahasiswa asing ini merupakan momentum penting untuk menunjukkan keindahan alam dan kekuatan budaya Ponorogo kepada dunia. Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi pemantik tumbuhnya ekosistem wisata yang terintegrasi serta masyarakat yang semakin sadar wisata.

“Saya pingin ini menjadi pemicu agar Ponorogo terkenal di mana-mana. Maka konsekuensinya, teman-teman harus bersiap menjadi masyarakat sadar wisata. Mulai dari warung-warungnya, dan komunikasinya harus ramah dan baik serta bisa bahasa Inggris agar wisatawan betah di sini,” ujar Kang Giri, sapaan akrabnya.

Sebagai bentuk penguatan destinasi, pemerintah juga menginisiasi sistem transportasi wisata dari Terminal Semanding ke Telaga Ngebel yang diujicobakan dalam kunjungan ini.

“Nah itu yang kita harus cerita di mana-mana. Jadi tamu yang datang naik bus besar kita oper di sana dengan bus kecil atau sejenisnya untuk menuju ke Ngebel. Besok itu Ngebel seperti itu. Jadi ekosistem wisata di Semanding tumbuh sebagai pendukung Telaga Ngebel,” tambahnya.

Tak hanya menikmati seni pertunjukan, para mahasiswa juga diajak menikmati keindahan alam Telaga Ngebel. Dikelilingi perbukitan dan udara sejuk khas pegunungan, Telaga Ngebel menghadirkan suasana yang menyegarkan dan menjadi favorit para tamu internasional.

Sebagai bentuk penghormatan serta upaya mengenalkan budaya lokal secara lebih mendalam, seluruh peserta juga menerima kenang-kenangan berupa satu stel busana adat Ponoragan. Pemberian ini menjadi simbol persahabatan budaya sekaligus promosi identitas kearifan lokal Ponorogo ke ranah global.

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Prof. Suparto Wijoyo, menyampaikan bahwa kunjungan ini adalah bentuk nyata dukungan terhadap Reog Ponorogo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO (ICH), sekaligus untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan alam Indonesia kepada mahasiswa internasional.

“Ini bentuk dukungan kami dan apresiasi kami Reog menjadi ICH UNESCO. Dihadapan ratusan mahasiswa internasional ini Reog yang original ditampilkan dan mereka terpukau serta mengakui peradaban dan heritage dari Reog Ponorogo memang pantas untuk diakui masyarakat dunia,” ungkapnya.

Prof. Suparto, yang akrab disapa Prof. Jojo, juga memuji peran Bupati Sugiri Sancoko dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya serta kelestarian alam di daerahnya.

“Kami juga mengapresiasi peran Pak Bupati yang aktif menjaga kesenian Reog ini terus berlanjut hingga dikenal masyarakat luas. Pun dengan kecantikan Telaga Ngebel yang terus dijaga,” tambahnya.

Kekaguman terhadap Ponorogo juga datang langsung dari para mahasiswa asing. Salah satunya adalah Noah Yokogawa, mahasiswi asal Jepang, yang mengaku baru pertama kali mengunjungi Ponorogo namun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Ini pertama kali saya melihat Reog Ponorogo, sungguh sebuah kesenian yang indah dan unik. Apalagi keindahan alam di Telaga Ngebel ini benar-benar masih alami. Saya ingin sekali suatu saat lagi ke sini,” ucapnya.

Selama mengikuti program Summer School di Indonesia, Noah merasa pengalaman di Ponorogo menjadi salah satu yang paling berkesan.

“Tadi kami ikut menari dan bermain Reog. Kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa pokoknya,” tuturnya penuh antusias.

Melalui kegiatan ini, Ponorogo tidak hanya menunjukkan identitasnya sebagai pusat kebudayaan, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai daerah yang memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Perpaduan antara Reog sebagai ikon tradisi, Telaga Ngebel yang alami, serta sambutan budaya yang hangat menjadi kekuatan yang layak diperkenalkan lebih luas ke kancah internasional.

Summer School ke-5, Unair Ajak 192 Mahasiswa dari 36 Negara Nikmati Pesona Alam dan Budaya Ponorogo – Disbudparpora Ponorogo