Warok Ponorogo yang dalam film ataupun seni pertunjukan sering digambarkan memiliki senjata andalan berupa kolor sakti, ternyata dalam dunia nyata juga memiliki senjata pusaka lain yang sangat penting & harus dimiliki, yaitu mothik.
Wakil Ketua Pramono Hamka Arifin mengatakan bahwa mothik merupakan salah satu varian pedang tebas yang berbentuk seperti klewang & berukuran pendek. Pendek yang dimaksud tentunya dari sisi ukuran orang Eropa.
“Kalau dalam tulisan Mbah Purwowijoyo, panjangnya sekitar satu pengan tangan,” ungkapnya.
Keberadaan Mothik dalam masyarakat Ponorogo tempo dulu sangat vital, terutama bagi para warok, kepala desa, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat.
“Seperti yang disampaikan oleh para sesepuh, fungsi utamanya adalah pada zamannya untuk menjaga diri karena pada zaman dahulu itu keamanan itu kan belum sebagus sekarang. Maka untuk menjaga diri sendiri, menjaga keluarga & menjaga desanya itu orang dulu itu sebagian punya mothik,” tegasnya.
Sementara itu Catur, Ketua Pramono menjelaskan bahwa keberadaan paguyuban pelestari mothik ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk menjaga kelestarian & edukasi terhadap masyarakat.
“Kami akan berusaha untuk mengusulkan hak paten. Biar tidak diklaim oleh tetangga kita seperti yang terjadi pada Pecut Samandiman yang sudah diklaim oleh Kediri,” jelasnya.
Catur menambahkan bahwa upaya pelestarian ini tak akan berhenti dalam sebuah komunitas, pihaknya juga mengaku siap berkolaborasi dengan pemerintah apabila kelak sudah terbangun Museum Peradaban Ponorogo.
“Kalau nantinya Museum Peradaban Ponorogo itu berdiri kami siap berkolaborasi karena mothik juga termasuk dalam peradaban masyarakat Ponorogo yang yang istimewa,” pungkasnya.
Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo (Pramono) ini dideklarasikan pada Minggu, 22 Desember 2024 di Joglo Paju.