Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Gereja Klepu Turut Hidupkan Budaya Lesung

Gereja Klepu Turut Hidupkan Budaya Lesung

Ponorogo – Kabupaten Ponorogo, selain memiliki wisata alam dan potensi wisata serta destinasi wisata baru yang mampu menyedot wisatawan, Bumi Reyog memiliki masyarakat yang cinta akan budaya adi luhung peninggalan nenek moyang. Berbagai seni dan budaya tentu sangat hidup di Ponorogo, diantaranya Reyog yang tentu mendunia, Jaranan Thek, Gajah Gajahan dan banyak lainnya.

Pada kesempatan kali ini, jurnalis Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olahraga (Disbudparpora) diajak menikmati seni musik Lesung. Musik Lesung adalah musik yang dimainkan beberapa orang dan menggunakan alat penumbuk padi zaman dulu.

Lesung, pada masanya sangat berkembang dimasyarakat, untuk menumbuk padi dan sering di mainkan untuk perayaan panen sebagai bentuk syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. Musik lesung sendiri sebelumnya sering dilombakan di aloon-aloon Kabupaten Ponorogo.

Di kemajemukan masyarakat Ponorogo, musik Lesung ini tidak hanya dilestarikan oleh umat muslim saja. Kaum non muslim pun juga turut berpartisipasi menjaga dan melestarikan musik Lesung. Hal itu bisa kita temukan di Desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo.

“Untuk desa Klepu, karena pengembangannya di awali di Gereja. Jadi di Klepu identik dengan Gereja,” Kata Andreas Gimin, Kepala Desa Klepu usai menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Paroki Santo Hilarius Klepu ke 9, Kamis (14/01/2021).

Mbah Lurah Gimin, sapaan akrabnya mengungkap pengembangan musik Lesung oleh Gereja sudah dilakukan semenjak 10 tahun yang lalu. Lesung Gereja Santo Hilarius Klepu juga sudah sering meraih prestasi saat dilombakan.

“Pas, festival Gejug Lesung ditingkat Kabupaten pernah meraih juara pertama,”ungkapnya.

Sementara itu, Romo Vikep Surabaya Barat, Romo Bowo yang hadir dalam HUT Santo Hilarius ke 9 menyampaikan bawasannya budaya Lesung sempat ditinggalkan namun karena sebagai masyarakat agraris, Lesung termasuk hal yang sangat penting. Maka untuk memberikan semangat kepada umat diadakan festival Lesung.

“2009 kita menemukan tema untuk mengangkat ini (musik Lesung) , 2010 di festivalkan,” paparnya.

Gus Wo, panggilan akrab umat islam kepada tokoh Kristen Katolik tersebut menyebut musik Lesung tidak hanya sebagai penumbuk padi namun bisa sebagai sarana untuk menghibur.

“Juga membawa nilai-nilai yang luhur di masyarakat tentang kemanusiaan dan persahabatan,” ujarnya.

Di lain sisi, perwakilan umat Islam Ponorogo, yang tergabung dalam organisasi masyarakat Patriot Garda Nusantara dan Menjalin (Menyambung Lintas Iman) mengaku sangat terhibur dan merasa sangat bangga kepada saudara setanah airnya.

“Melalui forum malam ini, saya yakin bahwa Indonesia kedepan masih ada. Beliau Almarhum Gus Dur, berpesan, selama kita berbuat baik, orang tidak akan menanyakan agamamu, itu pegangan kami,” pungkas Agus Nasrudin (Gus Lege) Ketua Patriot Garda Muda Ponorogo.

Sebagai informasi, undangan terbatas yang hadir pada acara tersebut merasa sangat terhibur dengan musik Lesung yang dimainkan para maestro Lesung dan vokalis asli desa Klepu. Dalam acara tersebut dibawakan lagu yang hits seperti Cidro yang membuat ambyar pendengarnya, Caping Gunung dan Gubuk Asmoro yang membuat larut kepada masa panen pada zaman dahulu.

“Kita sudah memainkan ini sembilan kali. Dulu sulit mencari pelatih karena langka. Maka kami coba kembangkan sendiri. Sekarang kita sudah bisa dan kami senang bisa bermain musik Lesung,” tandas Hamim Trismanto salah satu pemain Lesung.

Selain di Gereja Santo Hilarius Klepu, musik Lesung juga berkembang baik di pondok pesantren Darul Falah, Sukorejo yang juga pernah di tampilkan pada festival rujak uleg gratis pada tahun 2019. Selain itu, di beberapa sanggar kesenian dan desa yang ada di wilayah bumi Reog, kesenian Lesung juga terus di hidupkan.

Share This: