Monumen Reog: Bukan Sekadar Ikon Ponorogo, Tapi Warisan Bangsa

Kalau masyarakat Samosir punya Patung Yesus di Bukit Sibea-bea, atau Bali punya patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), maka Ponorogo kini tengah membangun Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP). Patung Yesus menjulang setinggi 61 meter, GWK 121 meter, dan MRMP dirancang setinggi 126 meter—artinya, Monumen Reog akan menjadi yang tertinggi di antara ketiganya.
MRMP berlokasi di Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, tepat di tepi jalan utama yang menghubungkan Ponorogo dengan Magetan. Dari pusat Kecamatan Sampung atau Pasar Sampung, lokasi ini mudah dijangkau. Bahkan dari kejauhan pun, bangunan monumen sudah terlihat megah dengan latar Gunung Wilis yang membentang di belakangnya.
Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Ponorogo. Akses jalannya sudah beraspal dengan kondisi cukup baik, meski di beberapa titik masih ada yang bergelombang. Di sepanjang jalan menuju MRMP, pengunjung bisa mampir ke warung-warung lokal dengan harga ramah di kantong. Misalnya, nasi lele bakar lengkap dengan lalapan bisa dinikmati hanya dengan Rp 10.000.
MRMP merupakan gagasan dari Bupati Ponorogo, Giri Sancoko, yang dikenal dengan sapaan Kang Giri. Gagasan ini muncul sejak awal masa kepemimpinannya di periode pertama. Bahkan, bisa jadi sudah lama direncanakan sebelum beliau resmi menjabat. Bagi yang mengenalnya, ide semacam ini memang khas dari sosok Kang Giri, seorang pemimpin yang dikenal penuh kreativitas, berpikir terbuka, dan punya latar belakang kuat di bidang seni dan periklanan.
Penulis sendiri pernah mendengar langsung gagasan MRMP ini dari Kang Giri saat berkunjung ke pringgitan, sekitar satu tahun setelah beliau menjabat. Saat itu, lokasi MRMP masih berupa bukit kapur biasa, namun sudah ditetapkan sebagai lahan pengembangan.
Wisata, Edukasi, dan Sejarah dalam Satu Kawasan
MRMP dibangun di atas lahan seluas 29 hektare, yang dulunya merupakan lokasi penggalian batu kapur sejak masa kolonial Belanda. Nantinya, Monumen Reog akan berdampingan dengan Museum Peradaban serta sejumlah wahana edukatif dan rekreatif lainnya.
Keberadaan MRMP diharapkan bisa menjadi magnet baru dalam sektor pariwisata Ponorogo, sekaligus pelengkap destinasi wisata yang sudah lebih dulu ada, seperti Makam Batoro Katong, Makam Kiai Ageng Mohammad Besari, Telaga Ngebel, dan lainnya.
Lokasi MRMP pun dikelilingi empat situs penting: Gua Lawa, situs Medang Sampung, Watu Dukun, dan cerobong pabrik kapur peninggalan Belanda. Keempat situs ini menjadi semacam pilar penyangga yang memperkaya nilai sejarah dan budaya kawasan ini.
Dusun Medang di Desa Sampung sendiri diperkirakan sebagai bekas pusat Kerajaan Medang Kamulan, kelanjutan dari Mataram Kuno yang didirikan oleh Mpu Sindok sekitar abad ke-10. Di sinilah Airlangga diyakini pernah menimba ilmu dan memimpin sebelum akhirnya membagi kerajaan menjadi Kediri dan Janggala.
Situs Watu Dukun di Desa Pagarukir dipercaya sebagai tempat Airlangga dan Patih Narotama berguru pada Mpu Barada, terutama saat terjadi peristiwa Paralaya ketika Kerajaan Medang diserang oleh aliansi kerajaan lain.
Jejak peninggalan kerajaan Medang masih bisa ditemui hingga kini, salah satunya berupa artefak yoni di Dusun Medang. Artefak lingga-yoni bahkan banyak tersebar di berbagai wilayah Ponorogo. Ini menunjukkan bahwa wilayah ini dulunya merupakan kawasan agraris yang subur, dengan tradisi spiritual yang kuat dalam mensyukuri hasil pertanian.
Tak jauh dari MRMP, sekitar 500 meter saja, terdapat Gua Lawa. Gua ini dikenal sebagai situs arkeologi penting sejak tahun 1926, ketika geolog Belanda L.J.C. van Es menemukan bukti bahwa gua tersebut pernah dihuni oleh manusia purba yang membuat alat-alat dari tulang hewan besar.
Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh arkeolog Belanda lainnya, van Stein Callenfels, pada 1928–1931. Penelitian serupa juga dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 2000, 2001, dan 2019. Hasilnya menunjukkan bahwa Gua Lawa memiliki peran besar dalam sejarah awal peradaban di Ponorogo.
Dari Ponorogo untuk Indonesia
Monumen Reog tak sekadar dibangun sebagai penanda geografis atau ikon pariwisata, tetapi juga sebagai simbol budaya dan kebanggaan nasional. Dengan menjulang tinggi di antara bukit kapur, monumen ini seakan berkata kepada dunia: inilah Ponorogo, tempat kelahiran kesenian reog yang telah mendunia.
Kini, Reog Ponorogo telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, melalui sidang Komite Antarpemerintah ke-19 yang digelar di Paraguay pada 3 Desember 2024. Reog menjadi warisan budaya takbenda ke-14 Indonesia yang masuk dalam daftar UNESCO.
Kebanggaan ini tak hanya dirasakan oleh warga Ponorogo. Di berbagai daerah, kita bisa menjumpai sanggar reog, grup kesenian reog, dan patung-patung tokoh dalam cerita reog seperti Prabu Klono Sewandono, warok, jathilan, hingga bujang ganong, yang menghiasi berbagai sudut kota.
Lihat saja Festival Nasional Reog Ponorogo ke-30 yang berlangsung pada 24–26 Juni 2025 dalam rangka Grebeg Suro. Ribuan penonton memadati Alun-alun Ponorogo setiap malam, baik di area gratis maupun berbayar. Tiket VVIP seharga Rp 50.000 pun ludes terjual. Tahun ini saja ada 41 grup yang tampil, datang dari berbagai penjuru nusantara, termasuk Papua, Palembang, Yogyakarta, Surabaya, dan banyak kota lainnya.
Lebih dari sekadar pertunjukan, MRMP juga akan menjadi sarana edukasi sejarah. Di museum ini, pengunjung diajak memahami perjalanan panjang peradaban Ponorogo—mulai dari era prasejarah (seperti Gua Lawa), masa Hindu-Buddha, kolonialisme, hingga masa kemerdekaan dan era modern.
Gagasan Kang Giri tentang MRMP memiliki makna yang dalam. Ia ingin agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya dan sejarah lewat buku, tetapi bisa melihat langsung jejak-jejaknya. Dengan mengunjungi museum dan situs-situs bersejarah di sekitarnya, masyarakat diajak untuk menyadari dan menghargai warisan leluhur mereka.
MRMP bukan sekadar milik masyarakat Ponorogo. Ia adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Begitu pula reog, meski lahir dari tanah Ponorogo, kesenian ini adalah kebanggaan bersama bangsa Indonesia.
Lebih dari sekadar tari topeng dan gemuruh kendang, reog membawa nilai-nilai filosofi, ajaran, dan karakter yang membentuk jati diri bangsa. Begitu juga Museum Peradaban, yang tak hanya bercerita tentang Ponorogo, tapi juga tentang perjalanan peradaban Indonesia, bahkan dunia.
Suatu hari nanti, orang akan datang, berdiri menatap megahnya monumen ini, dan dengan bangga berkata, “Inilah Ponorogo. Inilah Indonesia.”
Karena seperti kata Umar Kayam, kebudayaan nasional adalah kumpulan dari puncak-puncak kebudayaan lokal. Dan Reog, adalah salah satunya.
Source : budi santoso, wartawan/sastrawan