Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Pemprov Jatim Dukung Reog Ke UNESCO

Pemprov Jatim Dukung Reog Ke UNESCO

Rasa syukur atas Reog Ponorogo sebagai nominasi tunggal Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) UNESCO terus di gaungkan di tanah kelahirannya. Setelah beberapa waktu lalu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengadakan syukuran, kini giliran Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berikan dukungan untuk Reog.

Bertempat di Pendopo Agung, Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Gubernur Khofifah dan jajaran, didampingi Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita, Sekertaris Daerah Ponorogo Agus Pramono, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Ponorogo, Sunarto, Kapolres Ponorogo, Dandim 0802 dan Forkopimda melakukan menonton gelaran Reyog doa bersama dan lanjut doa bersama, Sabtu (26/02/2022). Nampak raut syukur tergambar pada hadirin menambah semangat membara agar Reog Ponorogo bisa goal UNESCO nantinya.

“Kita semua akan support Reog Ponorogo “, Kata Khofifah.

Ia menuturkan warisan budaya Reog Ponorogo disebut nominasi tunggal karena memang hanya ada di Ponorogo. Kalau pun ada Reog di Medan (Sumatera) tetap namanya Reog Ponorogo.

“Kalau pun ditampilkan di Palu, namanya tetap Reog Ponorogo. Bukan Reog Palu,” tegasnya.

Khofifah berpesan agar pihak Pemkab Ponorogo mampu mempresentasikan Reog dengan baik. Seperti penggunaan merak dan kepala Reog itu sebenarnya tidak merusak binatang.

“Merak dalam waktu tertentu bulunya rontok sendiri. Kalau kepala Reog menggunakan kepala kambing yang di warnai, sehingga menyerupai kepala singa,” terangnya.

Senada dengan Gubernur, Kang Bupati Sugiri yang memang dihari istimewanya karena hari ulang tahunnya ke 51 dan genap satu tahun kepemimpinannya bersama Wabup Bunda Lisdyarita mengungkap rasa syukurnya kehadirat Allah SWT.

“Syukur kami adalah karena Reog mendapatkan nominasi untuk 3 besar yang kita usulkan kepada ICH UNESCO,” papar Kang Bupati Sugiri, sambil menahan tangis harunya.

Kang Bupati Sugiri menambahkan Ponorogo terlahir rahim yang beradab dan adi luhung maka dunia harus mengakuinya. Maka untuk Reog semua bekerja keras.

“Mulai naskah akademik, kita berjuang habis-habisan untuk kemudian dunia mau mengakui Reog,” pungkasnya.

Share This: