Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Penjual Kembang Kembang Kempis Hadapi Pandemi

Penjual Kembang Kembang Kempis Hadapi Pandemi

Ponorogo – Penjual bunga di pasar tradisional mengalami penurunan drastis di masa pandemi Covid19. Hal itu seiring dengan sedikitnya upacara adat di wilayah Kabupaten Ponorogo yang jarang diadakan karena harus mematuhi peraturan pemerintah.

Bunga atau yang biasa disebut kembang oleh masyarakat Jawa sering digunakan sebagai uborampe atau perlengkapan ritual. Energi spiritual akan mudah melekat pada sesuatu yang wangi. Maka dari itu, bunga selalu dijadikan sebagai salah satu uborampe dalam suatu ritual.

Biasanya, masyarakat bumi Reyog menggunakan untuk tabur bunga saat menyekar, upacara pernikahan dan acara adat lainya. Di masa pandemi ini, tentu banyak wisata religi dan acara adat lain yang menyebabkan berkumpul banyak orang harus dibatasi hingga ditutup.

“Menurun kuathah (banyak sekali) Mas. Saestu (yakin),” kata Sumarni, salah seorang penjual bunga di pasar tradisional Sumoroto, Kecamatan Kauman, Rabu, (10/02/2021), saat ditemui jurnalis Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora).

Hal senada juga diungkap Tugiyem yang seprofesi dengan Sumarni, ia mengungkap saat ini dagangan kembangnya sepi dan kadang harus merugi karena bunganya kering.

“Penjualan beda Mas, jauh sekali sama sebelum Corona,” terangnya.

Namun demikian, baik Sumarni maupun Tugiyem sangat patuh pada protokol kesehatan sebagai usahanya untuk tetap sehat. Ia pun, berharap Covid19 cepat berlalu.

“Ndang rampung Corona niki, kersane lancar anggen nipun pados sandang pangan (Cepat usai Corona ini, supaya lancar dalam mencari nafkah). Sehat Wal Afiat,” tuturnya.

Harapan yang sama juga diungkapkan Astuti, warga Desa Nglancar, Sukorejo, saat membeli bunga untuk keluarganya yang sedang akan melaksanakan pernikahan.

“Ini beli kembang, ya harus lengkap Mas, terutama kembang Mayang, Kembang Jambe dan lainya. Semoga Covid19 lancar jadi pesta nikah bisa ramai,” tandasnya.

Share This: