Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Perlahan Tapi Pasti, Ponorogo Kota Santri Dan Budaya Bukan Sekedar Slogan

Perlahan Tapi Pasti, Ponorogo Kota Santri Dan Budaya Bukan Sekedar Slogan

99 hari program kerja Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita untuk memujudkan Ponorogo Hebat dengan jargon kota santri dan budaya semakin terpotret. Hal itu mulai terlihat semenjak Bupati dan Wakilnya yang kompak merakyat dan terus ajak gotong-royong elemen masyarakat Ponorogo. Dan malam ini, Sabtu (20/03/2021), Tahlilan dan pagelaran musik karawitan menjadi potret kinerja nyata Bupati dan Wakil Bupati yang semakin jauh terlihat, meskipun dengan protokol yang ketat. Bupati melakukan itu semua demi kebangkitan rakyat dalam menghadapi kondisi pandemi yang menekuk rakyat.

Bertempat di teras belakang Pringgitan (Rumah Dinas Bupati), Mas Bupati sapaan akrab Bupati Ponorogo nampak khusyuk melakukan tahlilan bersama para Kiai dan peserta tahlil, kemudian diakhiri doa bersama. Kemudian tak berselang lama, karawitan pun digelar di Pendopo Agung dan juga dengan peserta yang yang sangat terbatas. Kedua acara tersebut masing-masing tidak lebih dari 30 orang.

Kemudian, pihak protokoler Humas Pemerintah Kabupaten Ponorogo pun juga menyediakan handsanitizer dan selalu mengingatkan para peserta agar tertib protokol kesehatan. Dua kegiatan potret santri dan budaya pun berjalan lancar.

Usai gelaran karawitan, Mas Bupati mengatakan nafas budaya dan santri memang harus diterjemahkan dalam implementasi. Jika santri berbudaya itu hanya slogan maka akan jauh panggang dari api.

“Maka kami memulai walaupun dimusim pandemi maka tetep melakukan kegiatan dengan Prokes yang ketat, tapi tidak meninggalkan makna menuju kota santri yang berbudaya, ini penting. Sehingga dimulailah dari sekarang,” katanya.

Mas Bupati mengungkap untuk para pengrawit, seniman, seniwati, waranggono, tukang gendang sudah sangat rindu ingin berkreasi dan berkesenian kembali. Namun, karena masih pandemi Covid19, maka pihak Pemerintah Kabupaten Ponorogo mencari jalan tengah.

“Ya sudah, ayo berkesenian secara pelan-pelan. Tapi dengan Prokes yang baik,” tegasnya.

Kemudian, lanjutnya, dengan bahagia dan senang, maka imun akan meningkat dan Covid19 akan pergi. Nantinya setiap malam Minggu akan diadakan hal serupa.

“Ini mulai di desa kan sudah mulai kami perbolehkan. Tapi tetap mengurangi jumlah kerumunan dan kemudian Prokes harus ketat, agar kesenian lebih aman,” paparnya.

Dengan hal tersebut, Mas Giri berharap dengan kebijakan itu rakyat yang sudah tertekuk lama dari mulai ekonomi, kegiatan masyarakat dan pendidikan secara tatap muka, bisa dimulai dengan pelan-pelan bangkit dari pandemi.

“Kami kan pendek, tidak sampai 5 tahun maka harus bersama rakyat penuh dengan kualitas agar penuh dengan rasa 3 tahun lebih ini bisa terasa 5 tahun atau bahkan 5 tahun lebih. Setidaknya kami berjuang bersama-sama untuk mewariskan hal yang baik dan budaya yang baik kepada anak cucu kita, kelak,” pungkasnya.

Share This: