Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Rayakan Hari Wayang Kulit Sedunia, Syarat Makna Regenerasi

Rayakan Hari Wayang Kulit Sedunia, Syarat Makna Regenerasi

Ponorogo – Peringati hari wayang kulit sedunia 7 November 2020, Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, gelar wayang virtual dengan menampilkan 9 dalang anak dan remaja. Pagelaran wayang tepat di hari wayang sedunia ini syarat akan makna regenerasi para pelaku seni pada kebudayaan yang sudah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tanggal 7 November 2003 lalu.

Bertempat di gedung Padhepokan Reyog Ponorogo, Jl. Pramuka 19A Ponorogo, 6 dalang remaja dan 3 dalang tampil memainkan wayang kulit virtual. Dalam pagelaran ini ditayangkan pada channel YouTube JUVE MULTIMEDIA, Honocoroko Video Streaming dan Shooting Panggung serta didukung DALANG KANGKO BOYOLALI AR ENTERTAINMENT.

Kemudian para penonton dilarang datang langsung cukup menyimak dari rumah masing-masing dengan channel tersebut. Selanjutnya 3 dalang adalah yang tampil adalah Abi Zam Zam K.J, Faizal Wahyu Ramadhan dan Triyo Surya Pratama. Ketiganya tampil bersama secara bergantian dengan membawakan lakon Dewa Ruci. Sedangkan 6 dalang remaja yakni Rendra Satya, Galih Wisnu, Krisna Aditama, Benggol Drajat, Didin Cakrawibawa, Farhan Bayu A. Mereka berenam membawakan lakon Gatotkaca Winisudha.

Menariknya lagi para pemain gamelan (parogo), sinden, dan pedalang yang tampil ini telah berikrar menjadi sebuah kesatuan pada Manduro (Manunggale Dalang Muda Ponorogo). Mereka bersatu padu dalam berkhidmat untuk kelestarian wayang kulit.

Judha Slamet Sarwo Edi, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Ponorogo mengatakan pada pagelaran wayang virtual ditengah pandemi Covid19 ini yang lebih menarik adalah proses regenerasi pedalangan wayang kulit dalam rangka melestarikan seni dan budaya wayang.

“Jadi perkembangan pelestarian seni dan budaya ini harus dimulai sedini mungkin,” katanya kepada jurnalis Disbudparpora.

Yudha sapaan akrab Kabid Kebudayaan Disbudparpora mengungkap dengan mekanisme seperti itu tentu akan menjadi pemikiran kedepan untuk pelestarian budaya harus bersinergi antara pemerintah, organisasi dan seniman.

“Jadi ini, sinergi antara Pemerintah, dalam hal ini Disbudparpora Ponorogo, bersama Pepadi,” paparnya.

Yudha menjelaskan Manduro sebagai organisasi pedalang muda eksistensinya harus didukung. Hal itu, untuk mendukung kelestarian para pedalang dan pelaku seni wayang kulit.

parwoto dan judha

“Jadi mulai dari Sinden, Pedalang dan Parogo semuanya dari para pemuda,” ujarnya.

Sementara itu, Sindu Parwoto berharap dengan pagelaran wayang kulit dalam memperingati wayang sedunia dan adanya Manduro di Ponorogo bisa membawa wayang kulit yang merupakan warisan budaya Indonesia dari nenek moyang tetap bisa eksis.

“Tetap diagungkan, digemari dan dicintai oleh Masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan dalam berkesenian tentu membutuhkan regenerasi sehingga pada saatnya tidak kehabisan seniman. Lalu keberadaan klub Manduro tentunya menjadi sebuah hal yang mesti didukung penuh.

“Seni budaya tetap lestari dan eksis,” pungkasnya.

Share This: