Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Covid19, Hari-Hari Berat Bagi Seniman Panggung

Covid19, Hari-Hari Berat Bagi Seniman Panggung

Di masa pandemi Covid19, hampir seluruh sektor industri kesenian dan budaya yang melibatkan panggung, mati suri. Menghadapi keadaan itu, Agra Hadi Abdurrachman seorang aktivis kesenian asal Kabupaten Ponorogo, membuat terobosan baru yaitu membaca puisi seorang diri dengan mendatangi akringan dan tempat duduk yang disediakan di Jl. HOS Cokroaminoto, Selasa (03/08/2021).

Agra, sapaan akrab aktivis puisi yang juga anggota Theater Kaki Langit itu mengatakan idenya itu berawal dari keluhan-keluhan rekan-rekannya yang tidak pernah mentas akibat tidak adanya panggung karena pandemi Covid19 yang melanda. Kemudian dengan ngamen puisi ia mencoba membuat panggung sendiri tanpa menyebabkan kerumunan.

“Saya tidak menciptakan kerumunan tapi saya yang mendatangi kerumunan. Karena memang sudah ada kerumunan memang disini,” katanya.

Agra jebolan Kakang-Senduk Ponorogo 2016 itu mengungkap, dalam aksinya ia membawakan puisi yang bergenre nasionalis, perkara ekonomi dan berintikan gambaran situasi pandemi saat ini.

“Sesuai dengan apa yang saya rasakan bersama teman-teman pelaku panggung yang lain,” jelasnya.

Disamping itu, Agra juga membawakan puisi-puisi yang memiliki isi puisi tentang pendidikan dan sosial. Menurutnya kedua hal itu juga sangat tidak kalah penting.

“Karena saat ini, kita juga sudah mulai kehilangan tempat untuk berkreasi, anak-anak sekolah juga sosialnya juga entah nanti bagaimana. Karena sekolah dirumah terus,” paparnya.

Kemudian Agra melanjutkan, memilih Jl. HOS Cokroaminoto untuk meluapkan ide ngamen puisinya berdasarkan survei yang dilakukan. Ia menyebut di Ponorogo saat ini yang paling ramai adalah Jalan atas nama Pahlawan Nasional Kebanggaan Ponorogo.

“Sudah terjadi kerumunan, jadi apa salahnya jika saya mendatangi kerumunan itu,” tegasnya.

Ia menambahkan selain mencoba untuk melampiaskan jiwa keseniannya, Agra juga turut bersosialisasi tentang protokol kesehatan.

“Jadi kenapa saya jalan dari ujung sini sampai ujung sana. Karena kalau saya berada pada satu titik akan menimbulkan kerumunan. Mungkin ini bisa menjadi solusi juga, seni bisa dipertunjukkan dijalanan dan berpindah tempat. Jadi tidak memaksa orang untuk berkumpul disatu tempat. Tetap dengan itu, tetap dengan masker, jaga jarak. Karena saya bermain vokal dan letak saya membaca puisi tidak terlalu dekat ,” imbuhnya.

Ia berharap dapat segera ditemukan solusi terbaik, karena sudah satu tahun setengah tidak bisa membuat panggung.

“Dan itu adalah hari-hari terberat terutama untuk temen-temen seni panggung yang susah juga untuk cari kerja yang lain, dimana diluar sana dunia persaingan juga lebih ketat lagi. Ya semoga lebih cepat selesai (Covid19) dan bisa segera normal seperti dulu lagi,” pungkasnya.

Share This: