Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Hari Batik Nasional, Eko : Semoga Batik Ciprat Karangpatihan Jadi Ikon Ponorogo

Hari Batik Nasional, Eko : Semoga Batik Ciprat Karangpatihan Jadi Ikon Ponorogo

Ponorogo – Hari Batik Nasional salah satu momentum betapa pentingnya branding kenasionalan dan cinta akan produk dalam negeri untuk terus ditanamkan bagi generasi penerus bangsa. Batik sendiri merupakan salah satu budaya berpakaian bagi warga Indonesia.

Pakaian yang khas dengan lekukan dan karya seni asli bangsa Indonesia, tentu hampir bisa dinikmati seluruh penduduk dunia. Berbagai daerah di Indonesia, bahkan memiliki aneka ragam batik yang menjadi ciri khas daerahnya masing-masing. Seperti batik Pekalongan, batik Yogyakarta, batik Solo dan beberapa wilayah di Indonesia.

Selain kekhasan kearifan lokal daerah, batik juga dibedakan dari cara pembuatannya, mulai dari batik tulis (dilukis sendiri oleh pembuat batik), batik ciprat (dibuat dengan cara dicipratkan) dan juga menggunakan alat modern seperti mesin cetak digital serta tentu dengan cara yang lain untuk menghasilkan batik yang benar-benar berkualitas seni dan karya nan indah serta bernilai tinggi.

Di wilayah Kabupaten Ponorogo sendiri banyak para pengrajin batik dengan cara pembuatan yang berbeda-beda. Namun untuk hasilnya tidaklah kalah dengan kualitas daerah lainnya. Salah satunya batik ciprat karya desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Kemudian yang unik dan menarik, batik ciprat Karangpatihan, hasil karya dari para tuna grahita (keadaaan keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga retardasi mental). Dengan kekurangan para pembuatnya tersebut mampu membuat sebuah karya yang luar biasa khas dan unik.

Eko Mulyadi Kepala desa Karangpatihan, mengatakan pembuatan batik ciprat didesanya sudah dimulai pada tahun 2015. Seiring berjalannya waktu dan kemampuan para pengrajin batik ciprat Karangpatihan hingga mampu menghasilkan banyak motif yang menarik.

“Mulai dari motif abstrak, binatang, wayang, tumbuhan, dan masih banyak lainnya, serta menggunakan metode kombinasi antara batik ciprat dan batik tulis sehingga menghasilkan karya yang unik dan khas dan Alhamdulillah mendapat respon positif dari pasar,” katanya saat dihubungi jurnalist Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), Jum’at (02/10/2020).

Eko mengungkap batik ciprat untuk penjualan ada dua cara, yakni penjualan secara konvensional dan penjualan melalui media sosial atau online. Kemudian, batik ciprat Karangpatihan ini merupakan hasil pemberdayaan oleh pemerintah desa untuk para tuna grahita dan warga karangpatihan.

“Warga yang mengalami disabilitas intelektual atau sering disebut Tunagrahita ada juga warga umum. Mereka sengaja kita berdayakan dengan batik ciprat ini,” paparnya.

Semakin majunya perkembangan teknologi dan modernisasi tentu batik menjadi mudah dikenali oleh pasar. Bahkan pada tanggal 02 Oktober menjadi hari batik Nasional.

“Harapan kami satu ya, semoga batik ciprat dari Karangpatihan ini bisa diterima di Ponorogo, itu yang pertama. Sehingga kami ini menjadi ikon juga di Ponorogo. Harapan kita juga tentu kepada Pemerintah Kabupaten dan masyarakat kita batik ciprat Karangpatihan bisa digunakan sebagai pakaian yang bernuansa batik,” pungkasnya.

Sobat fantasis ayo ke Ponorogo dan jangan lupa bawa oleh-oleh batik ciprat Karangpatihan. Untuk mendapat batik ini bisa langsung datang ke rumah harapan, yang terletak di desa Karangpatihan. Selain batik ciprat dirumah tersebut juga menyediakan batik tulis dan karya tangan warga setempat seperti, keset, kemoceng, aksesoris tangan seperti gelang dan lain-lain.

Kemudian setelah atau sebelum berbelanja sobat fantasis juga bisa menikmati keindahan alam desa Karangpatihan. Disana Anda akan bisa menjajaki gunung Beruk, wisata alam milik desa Karangpatihan nan elok dan mempesona.

Share This: