Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Haul Gus Dur Lintas Iman Di Bumi Reyog, Potret Kecil Budaya Kerukunan Umat Beragama

Haul Gus Dur Lintas Iman Di Bumi Reyog, Potret Kecil Budaya Kerukunan Umat Beragama

Ponorogo – Bulan Desember acap kali disebut bulannya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) bagi warga Indonesia. Beliau mantan Presiden Republik Indonesia yang menjadi patron dalam menjaga Bhineka Tunggal Ika sesuai Pancasila. Tak hanya di kota-kota besar, rangkaian Haul Gus Dur juga diselenggarakan oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari dusun hingga pelosok desa. Bapak Pluralisme bagi lintas Agama tersebut memberikan bekas kenangan suri tauladan persatuan dan kesatuan bagi umat beragama di Indonesia.

Di Bumi Reyog, acara Haul Gusdur diadakan di pendopo Makam Batoro Katong, Setono, Kabupaten Ponorogo, Minggu (06/11/2020). Sekitar 25 peserta perwakilan lintas iman dari berbagai aliran agama duduk bersama rayakan Haul Gus Dur dan mempererat tali persaudaraan.

Dengan tema “Potret Kecil Indahnya Indonesia Berbhineka”, masing-masing perwakilan Agama saling berbagi cerita dan pengalaman untuk persatuan dan kesatuan umat. Acara yang diinisiasi oleh Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi-NU) yang dituangkan dalam Presedium Lintas Iman dan Budaya. Pada acara tersebut di awali dengan ziarah makam Batoro Katong bersama lintas iman dan dilanjutkan dengan berdoa bersama dan genduri serta ramah tamah.

Abdul Muis, Presedium lintas iman dan budaya mengatakan sangat bersyukur di usia yang ke tiga tahun bisa istiqomah mempererat persaudaraan dan persatuan antar umat beragama. Sehingga apa yang dilakukan bisa memujudkan Bhineka Tunggal Ika.

“Kebhinekaan ini nantinya betul-betul akan menjadi Ika,” katanya.

Selain itu, menurut Gus Muis sapaan akrab Abdul Muis mengungkapkan sesuai dengan yang di tauladankan Gus Dur sebagai simbol besar yang mengangkat perbedaan-perbedaan menjadi benar-benar Bhineka Tunggal Ika.

“Menjadi cair tidak terpecah-pecah. Kenapa Gus Dur, karena Gus Dur yang mencoba untuk mengaitkan antara perbedaan-perbedaan itu, sehingga persamaan yang kita lihat,” paparnya.

Tak hanya bagi umat islam, bagi umat Kristen di Ponorogo, Gus Dur juga mendapatkan tempat di hati mereka. Seperti yang disampaikan Romo Vikep Surabaya Barat, Romo Bowo, menurutnya Gus Dur sosok yang sederhana yang mudah menerima orang dan tidak terlalu muluk-muluk.

“Saya kenal Gus Dur, dia teman saya. Ngobrol-ngobrol enak,” kenangnya.

Romo Bowo menegaskan dengan adanya wadah pemersatu bangsa seperti presedium lintas iman dan budaya memiliki dampak yang sangat positif. Diantaranya dapat mencegah adanya terorisme dan radikalisme.

“Supaya tidak ada driskiminasi dan intoleransi,” tegasnya.

Dengan adanya presedium tersebut bagi umat Hindu di Ponorogo merasa tidak sendiri di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung Bhinneka Tunggal Ika. Mereka merasa mendapatkan tempat dan saudara.

“Kita akui saja ya, hari ini sudah mulai sedikit terdegradasi dengan keberadaan kelompok-kelompok radikalis. Jujur saja bisa mengacam Kebhinekaan ini,” terang Gede Eka, sekertaris Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Ponorogo.

Hal itu dapat dicegah, lanjut Gede, dengan kerukunan antar umat beragama dan penganut antar kepercayaan dengan kegiatan seperti yang dilakukan presedium lintas iman dan budaya.

“Sehingga tetap ada dan terjaga persatuan antar umat,” ujarnya.

Selain mengutarakan hal tersebut Gede juga mengungkapkan keberadaan Gus Dur di hati umat Hindu. Ia menyampaikan Gus Dur bagi umat Hindu adalah Patron atau Bapak Pruralisme.

“Yang mengajarkan bahwa Kebhinekaan itu adalah suatu yang nyata. Jadi, sosok Beliau memang sangat kami kagumi sebagai Bapak Pluralisme yang mengajarkan kami bahwa perbedaan itu tidak harus menjadi sebuah jarak,” tuturnya.

Hal senada diungkap Suwandi Citapanyo, Ketua Wihara Dharma Dwipa Buddha Ponorogo, umat Buddha juga ingin aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti di presedium lintas iman dan budaya.

“Khususnya kami yang minoritas itu ada tempat, ada wadah dan ikut kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan-kegiatan sosial dengan teman-teman yang ada di Ponorogo ini,”ungkapnya dengan penuh harap.

Suwandi juga menyampaikan rasa kagum umat Buddha di Ponorogo atas apa yang pernah dilakukan Gus Dur kala itu.

“Bagi kami, terutama saya K.H. Abdurrahman Wahid adalah tokoh Nasional yang memperjuangkan hak-hak minoritas,” ungkapnya.

Sementara pihak Sunardi, Kuncen Makam Batoro Katong menerima dengan baik saudara-saudari dari lintas iman yang ingin berziarah di makam Batoro Khatong.

“Itu sangat positif. Jadi zamannya orde baru yang namanya P4 (Pedoman Pengamalan dan Pengahayatan Pancasila) ya ini. Ini merupakan cermin Bhineka Tunggal Ika,” pungkasnya.

Dalam gelaran acara tersebut standart protokol kesehatan menjadi perhatian utama bagi para peserta dan panitia. Mereka menyediakan handsanitizer, thermo gun dan tertib masker serta sering cuci tangan.

Share This: