Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Ikut Diklat Reyog, Aiman, Pembarong Cilik Ingin Jadi Legenda

Ikut Diklat Reyog, Aiman, Pembarong Cilik Ingin Jadi Legenda

Ponorogo – Segala ikhtiar untuk nguri-uri budaya ditengah pandemi Covid19 terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Budayawan, dan Seniman di Bumi Reyog Ponorogo. Kali ini, Yayasan Reyog Ponorogo gelar pendidikan dan pelatihan (Diklat) Pembarong Reyog. Diklat tersebut di ikuti oleh 122 pembarong muda. Menariknya pada diklat itu, tumbuh bibit Singo Barong cilik yang ingin jadi legenda.

Bertempat di Gedung Padepokan Reyog, Jl Pramuka No 19A, Kamis (27/08/2020) para pembarong muda sangat antusias dan semangat menerima materi jurus-jurus Barongan dari Maestro dan Legenda penari Singo Barong. Seperti Singo Barong kembar, Mbah Wondo-Wandi. Kemudian untuk ahli Reyog festival pihak Yayasan Reyog Ponorogo, juga mendatangkan Alex Syamsi yang dikenal dengan raja Pembarong serta Ginanjar Heru Cahyo yang sangat sedang in(red) dengan kemapuan fisiknya.

Kendati dalam pelaksaannya sangat terbatas dan harus patuh standart protokol kesehatan, namun Diklat berjalan dengan lancar dan sukses. Diantara para peserta Diklat nampak wajah-wajah Singo Barong muda, sangat menikmati peran mereka sebagai Singo Barong. Para peserta Diklat pembarong Reyog ini kedepannya diharapkan bisa meneruskan warisan budaya leluhur Bumi Reyog.

Agus Sugiarto Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) mengatakan Diklat itu, sesuai dengan visi misi Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, menuju Ponorogo, yang lebih maju, berbudaya dan religius.

“Pendidikan dan Pelatihan pembarong muda ada spirit melestarikan ke anak-anak muda, generasi penerus yang melaksanakan ini,” katanya.

Ugin sapaan akrab Kadisbudparpora mengungkap, Diklat ini juga untuk meningkatkan kapasitas, integritas dan teknik membarong, baik dari raga, rasa dan irama.

“Wirogo, wiromo sama wiroso,” paparnya.

Sementara itu, Shodiq Pristiwanto Koreografer senior Yayasan Reyog Ponorogo menjelaskan para pembarong muda ini awalnya hanya dibuka untuk 21 satu perwakilan Kecamatan saja. Namun karena merasa sangat disayangkan jika hanya itu saja, maka pihaknya membuka untuk umum juga.

“Ini luar biasa mas, jumlahnya ada 122 setelah ada penambahan. Ini tadi kalau kita tidak membendung. Diluar itu banyak yang mau ikut-ikut juga. Kita sadar akan wabah ini, maka kita jaga,” terangnya.

Shodiq menuturkan sesuai dengan harapan Yayasan Reyog Ponorogo dan Disbudparpora para penari Singo Barong muda yang mengikuti diklat nantinya memiliki kemampuan menjadi pembarong yang handal dan menjiwai perannya.

“Kita harus sadar bahwa Singo Barong atau pembarong adalah sebuah bentuk seni tari. Dimana ini butuh ekpresi dan juga butuh nilai-nilai pemfilosofian sesuai dengan karakternya,” tandasnya.

Harapan besar Yayasan Reyog Ponorogo dan Disbudparpora dengan adanya Diklat pembarong Reyog, tentunya tidak sia-sia. Hal itu terbukti dari antusiasnya peserta dan adanya peserta yang nekad ikut Diklat, di usianya yang masih tergolong amat sangat muda, namun memiliki cita-cita menjadi seorang legenda Pembarong. Ia adalah Aiman Hakimi, umur 10 tahun, pelajar kelas 5 SDN 2 Plalangan Ponorogo.

“Ingin jadi legenda Pembarong,” pungkasnya, dengan wajah cerah dan keyakinan tinggi.

Mari bersama kita jaga mimpi-mimpi para pembarong muda kebanggaan kita dengan tetap disiplin dalam penggunaan protokol kesehatan. Agar kedepan dengan terputusnya mata rantai Covid19 bisa menambah kuota pendidikan dan pelatihan Pembarong Reyog.

Share This: