Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Imlek Di Masa Pandemi

Imlek Di Masa Pandemi

Ponorogo – Bumi Reog selain memiliki kebudayaan yang mendunia juga menjadi tempat layak bagi kemajemukan masyarakat. Salah satunya bisa dilihat tidak sedikitnya warga etnis tionghoa yang hidup berdampingan dengan penduduk asli Kabupaten Ponorogo. Kemudian tepat hari ini, Jumat (12/02/2021) merupakan hari istimewa bagi mereka, yakni perayaan tahun baru China (Imlek). Namun demikian, perayaan Imlek tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi Covid19.

Pada tahun sebelumnya, Imlek selalu berjalan meriah dengan kehadiran pertunjukan khas kesenian dan budaya asli China berupa Barongsai yang meriah, lalu dibalut dengan petasan dan kembang api. Kali ini, mereka harus bersabar untuk taat pada peraturan pemerintah tentang standart protokol kesehatan (Prokes) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM) Mikro yang di perpanjang sampai tanggal 22 Februari 2021.

Tak hanya sampai hanya sampai disitu saja, kondisi berkurangnya kemeriah kesakralan Imlek juga berdampak pada menurunnya sektor perdagangan. Khususnya pada penjual kembang api.

“Ya kalau pandemi kali ini, ngga ada sama sekali untuk pembeli petasan. Paling kalau ada eceren kecil-kecil itu Mas. Biasanya kembang api yang besar-besar itu keluar, tahun ini ngga,” kata Susi, penjual kembang api, di toko Aladin, Jl. Jendral Soedirman, Ponorogo.

Susi mengungkap biasanya yang datang untuk membeli kembang apinya adalah perkumpulan Tionghoa yang ada di Ponorogo untuk diserahkan kepada setiap lingkungan rumah warga etnis Tionghoa untuk dinyalakan di setiap rumah.

“Jadi semua bisa lihat gitu, ngga mencakup keluarga dia aja,”jelasnya.

Susi yang juga keturunan Tionghoa beragama Katolik itu, menegaskan penurunan penjual kembang apinya mencapai 50 persen. Hal itu berlaku otomatis karena banyak acara yang melibatkan banyak orang harus tertunda.

“Seperti pernikahan itu kan masih belum boleh (Pesta resepsi nikah yang melibatkan banyak undangan lebih dari 20 orang), padahal itu kan selalu pakai. Kalau sekarang kan ngga,” paparnya.

Kembali, pada pesta perayaan Imlek warga etnis Tionghoa pun harus mengurangi kegiatan berkumpul bersama dengan sanak famili, kerabat dan tetangganya secara bersama-sama. Meskipun pada tahun-tahun ini, mereka merasa mendapat kemajuan dan toleransi yang tinggi.

“Sudah diakui dan sudah bisa melaksanakan meski di masa pandemi covid19 dengan aturan protokol kesehatan. Jadi kita melaksanakan dengan aturan Mas,” tegas Suwandi Citapanyo, Ketua Wihara Dharma Dwipa Buddha Ponorogo.

Suwandi sapaan akrabnya melanjutkan di perayaan Imlek tahun ini mereka merayakan secara sederhana sekali. Hanya, berkumpul dengan teman-teman terdekat dengan jumlah yang sedikit.

“Kita tahu kondisi dan kita mengikuti perkembangan-perkembangan pemerintah,” tuturnya.

Suwandi berharap kedepannya kondisi pandemi segera berakhir dan aktivitas bisa kembali normal.

“Semoga semua pengharapan dan cita-cita tercapai dan semua mendapatkan kebahagiaan semua tanpa terkecuali. Kondusif, Indonesia kondusif. Pandemi berlalu,” pungkasnya.

Share This: