Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Ini Cara SMA Bakti Uri-Uri Pencak Silat

Ini Cara SMA Bakti Uri-Uri Pencak Silat

Seiring berkembangnya zaman, puluhan perguruan pencak silat hidup berkembang dan subur di Ponorogo. Hal itu tak lepas dari peran lingkungan pendidikan yang mengutamakan persatuan dan kesatuan Bangsa.

Seperti yang dilakukan Sekolah Menengah Atas (SMA) Bakti Ponorogo, sekolah swasta terfavorit di Kabupaten Ponorogo yang syarat sejarah, dimulai didirikan pada tahun 1945 oleh perkumpulan para pengrajin batik Ponorogo yang tergabung dalam Koperasi Batik BAKTI Ponorogo. Selain merupakan saksi betapa Hebatnya Batik Ponorogo kala itu, juga pihak sekolah saat ini tetap melestarikan budaya Bangsa berupa pencak silat.

Ikhwanul Abrori, Kepala Sekolah SMA Bakti Ponorogo mengatakan pada prinsipnya semua kegiatan yang ada di SMA Bakti mengacu pada visinya, yaitu kemandirian budaya. Perwujudan visi itu diinginkan pada pelestarian budaya, nguri-uri budaya yang ada disekitar, terutama kearifan lokal.

“Dan yang kita kembangkan terutama seni beladiri pencak silat Merpati Putih. Karena itu memang digali dari akar budaya bangsa Indonesia. Sehingga mau tidak mau harus kita pertahankan, kita kembangkan, ” katanya saat ditemui, jurnalis Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) di kantornya, JL Batoro Khatong No 24 Ponorogo, Senin (18/10/2021).

Ikhwanul mengungkap meskipun demikian pihak sekolah memberikan ruang kepada para siswa-siswinya yang sudah ikut perguruan pencak silat lain atau dengan kata lain tidak pilih kasih. Kendati Merpati Putih menjadi ekstrakulikuler resmi SMA Bakti.

“Ada PSHT, Ada PSHW, ada yang Porsegal, ada Tapak Suci, ada Pagar Nusa, ada IKS Kera Sakti. Tapi mereka tidak menunjukan di SMA Bakti itu ini saya yang paling menang. Tapi mereka berkarya di bidangnya masing-masing anak tersebut sesuai dengan bakat minatnya,” paparnya.

Kembali kepada Merpati Putih, lanjutnya, itu merupakan kegiatan Ekstrakurikuler resmi tidak menutup kemungkinan jika ada event-event pencak silat diluar Merpati Putih, siswa dan siswinya tetap dilibatkan.

“Misal kemarin kayak ada Porseni, kemudian ada anak Porsegal itu yang pengen tampil. Yaudah kita fasilitasi. Kita berikan hak yang sama dengan anak-anak yang lainnya,” tegasnya.

Ikwanul berharap dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh seluruh pelestari pencak silat yang ada, pencak silat dapat diakui oleh dunia. Kemudian, khusus di SMA Bakti bisa muncul atlet-atlet pencak silat yang mampu muncul di ajang kompetisi Nasional.

“Memang ada pembinaan disini. Tapi sekali lagi, resminya memang MP (Merpati Putih). Namun, kalau memang ada anak-anak yang diluar MP yang ingin juga berkarir dalam tanda petik, dalam dunia pencak silat mereka. Tidak mungkin kita paksa mereka untuk ikut di MP. Biar mereka berkarir di perguruannya masing-masing tapi benderanya tetap SMA Bakti. Semuanya mengrucut bagaimana kita nguri-uri budaya,” tuturnya.

Ia menambahkan, semua itu karena berakarnya dari budaya Nusantara. Ada beberapa event yang dipercayakan, sebelum pandemi ke SMA Bakti diantaranya Kapolres Cup dan Kapolda Cup.

“Itu semuanya disini, sekretariatnya disini. Bahkan ada atlet dari luar kota menginap, yaudah kita siapkan dibelakang, dikelas itu, seadanya. Ya karena memang mereka menginap disini, untuk bertanding pada event-event Kapolda Cup tersebut,” pungkasnya.

Share This: