Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Ngopi Sambil Ngaji, Potret Budaya Dan Religius

Ngopi Sambil Ngaji, Potret Budaya Dan Religius

Ponorogo – Sobat fantastis yang mimin banggakan, pasti suka ngopi di tugu selamat datang perbatasan Madiun – Ponorogo Kan? Atau yang sering Kita sebut Sor Tugu (STG). Potret Ponorogo bangetkan? Lebih Maju, Berbudaya dan Religius. Seperti yang malam ini, terlihat di STG, Selasa (18/02/2020).

Kenapa mimin bilang begitu ? Tentu bukan rahasia umum bahwa di Ponorogo, kalau Kita ngomongin STG pasti Kita teringat kenangan? Tapi bukan kenangan bersama mantan loh. Namun nikmatnya kopi sambil melihat hiruk pikuk lalu lalang kendaraan yang lewat. Pasti sambil liat cewe cantik, hehee. Tuh kan mimin jadi ketahuan kalau mimin cowo jomblo. Ups tambah keceplosan.

Oke, pasti bertanya-tanya dimana religiusnya? Selain memiliki budaya Reyog yang menjadi simbol kebudayaan di Ponorogo juga banyak sekali pondok pesantren, seperti Gontor, Pondok Walisongo, Ngabar, Pondok Mayak, pondok-pondok pesantren lainnya yang berada di Ponorogo. Kemudian tentu masyarakat pondok pesantren maupun umum juga sangat menyukai kopi.

Seperti yang dilakukan puluhan komunitas pemuda pemburu ilmu, selain menikmati kopi dan keindahan suasana STG mereka juga ngaji di lokasi tersebut.

“Awalnya, Kita hanya berlima, alumni Ponpes Mayak, ketemuan untuk bersilaturahmi sambil ngopi disini. Tiba-tiba Saya merasa kok enak ya, buat Ngaji, akhirnya sambil ngopi Kita Ngaji,” kata Ustad Laits Atsir (38) warga Desa Kepet, Kecamatan Dagangan, Madiun.

Ustad Laits yang pernah mengajar  Mayak mengungkap kini komunitas ini, sudah memiliki puluhan pemuda yang ngaji bersama di STG. Namun mereka disaran tidak merokok dan meminum kopi saat sedang mengaji. Hal itu, untuk menghormati ilmu.

“Kita terbuka untuk umum, jadi tidak harus alumni pesantren, masyarakat boleh gabung sama Kita. Kan, kalau di masjid atau mushola biasanya pemudanya sepi, kalau disini malah banyak, boleh pakai kaos, ngga harus formal tapi ya pakai celana Panjang,” tegasnya.

Masih lanjut, Ustad Laits mereka di STG belajar mengaji tetap saling menghargai para penggemar kopi yang lain. Jadi tidak mengajarkan ujaran kebencian atau pun memaksakan kehendak.

“Alhamdulilah, sudah hatam kitab Bidayatul Hidayah (tentang tasyawuf karangan Imam Ghozali) dan malam ini, Selasa, (18/02/2020) perdana ngaji, kitab Sulam Taufiq (tentang fiqih),” ungkapnya.

Imam Bagus Putra salah satu anggota pemuda pemburu ilmu yang juga aktif sebagai dosen di IAIN Ponorogo menambahkan selama ngopi sambil ngaji di STG tidak ada gangguan. Masyarakat sekitar pun sangat menghargai kegiatan mereka.

“Kami mengadakan ngopi sambil ngaji di STG, setiap malam rabu dan sudah berjalan selama dua tahun. Ini ada 30 pemuda,” Imbuhnya.

Sebagai informasi para anggota pemuda pemburu ilmu, tidak hanya dari Ponorogo saja melainkan dari berbagai kota, lain seperti dari Jambi, Tulungagung, Madiun dan kota lainnya.

“Ngaji disini (STG) asyik, lebih millenial,” Tandas Romzadin Muhammad, Mahasiswa IAIN Tulungagung.

Dalam hal ini tentu Ponorogo yang lebih maju, berbudaya dan religius sangat nampak nyata dan terlihat. Sesuai dengan visi misi kepemimpinan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Ayo Ke Ponorogo.

Share This: