Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Pasar Minggon, Budaya Lama Yang Dimunculkan Kembali

Pasar Minggon, Budaya Lama Yang Dimunculkan Kembali

Ponorogo – Berbagai macam upaya tentu terus dilakukan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah Covid19, diantaranya adalah memecah kerumunan massa yang terjadi baik di lokasi wisata, pusat perbelanjaan masyarakat dan di tempat olahraga. Kali ini, menyadari pentingnya peningkatan ekonomi dan hendak berniat memecah kerumunan massa di hari Minggu, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Sri Sentono, gelar car free day yang dikemas dalam Pasar Minggon. Yang lebih menarik di pasar Minggon masih masih berlaku sistem barter. Namun jika ingin belanja dan menikmati jajanan tradisional di pasar Minggon itu, syarat utama adalah patuh protokol kesehatan.

Setelah sebelumnya sukses dengan Warung Geratis (WAGE) yang viral dan di adopsi di beberapa desa hingga luar Ponorogo, Tak membuat Marsono dan kawan-kawan (Pokdarwis Sri Sentono) kehilangan gagasan untuk bantu masyarakat.

Dengan konsep sederhana car free day, ala pasar yang ia namai dengan Pasar Minggon, sukses digelar di depan Sekolah Dasar Negeri 01 Plalangan, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Di Pasar Minggon warga masyarakat bisa menjual produk unggulan mereka berupa jajanan tradisional hingga pakaian anak-anak sampai dewasa.

Camat Jenangan Erni Haris Mawarti yang turut hadir dan meresmikan car free day tersebut mengatakan terobosan yang dilakukan oleh pokdarwis Sri Sentono ini sangat baik dan bagus. Utamanya dalam meningkatkan perekonomian warga Plalangan, juga bisa mengurangi kerumunan massa di beberapa lokasi car free day di Kota Reyog.

“Utamanya karena ini juga jalur gowes, jadi nantinya goweser bisa mampir kesini untuk mampir dan mencicipi makanan-makanan yang disediakan oleh warga desa Plalangan,” katanya, Minggu (20/09/2020).

Erni menegaskan jika warga masyarakat ingin belanja dan mampir ke lokasi tersebut maka syarat utama adalah patuh pada protokol kesehatan.

“Wajib masker, jaga jarak dan tidak boleh berkerumun. Di situ sudah diberi jarak dari pedagang satu dengan yang lain. Kemudian juga disediakan handsanitizer,” paparnya.

Hal senada juga diungkap oleh Kepala Desa Plalangan Ipin Hardianto, yang menuturkan bawasannya apa yang dilakukan oleh kelompok sadar wisata Sri Sentono merupakan bentuk kesadaran untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa Plalangan ditengah pandemi. Namun sebetulnya Pasar Minggon hanyalah nama jadi bukan pasar sesungguhnya.

“Intinya disini dari teman-teman Pokdarwis, dalam rangka menggerakan perekonomian masyarakat di tengah pandemi covid ini, kita melakukan kegiatan seperti car free day tapi ala-ala Deso,” jelasnya.

Sementara itu Marsono Ketua Pokdarwis Sri Sentono menambahkan pada pasar Minggon tidak mengutamakan rupiah melainkan barter. Karena tujuan dari gagasannya tersebut adalah untuk mengenalkan budaya desa atau lebih ke ranah wisata budaya.

“Yang di jajakan sendiri juga lebih ke makanan tradisional seperti gatot (makanan dari singkong) dan makanan tradisional lain serta jantung pisang sekaligus daun pisang,” pungkasnya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *