Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Perpaduan Santri dan Budaya Nampak Pada Malam Puncak Grebeg Suro

Perpaduan Santri dan Budaya Nampak Pada Malam Puncak Grebeg Suro

Malam Perayaan Grebeg Suro dan pengumuman Festival Reog Mini (FRM) ke XVIII dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FRNP) ke XXVII berlangsung meriah dan penuh warna. Bahkan, acara tersebut mampu menggambarkan kehidupan seni budaya dan santri yang berpadu dalam tagline Grebeg Suro 2022 yaitu Bergandeng Erat, Bergerak Cepat, Ponorogo Hebat.

Pagelaran tahunan yang sudah menjadi tradisi itu diawali dengan tari sufi dan musik Hadrah. Selanjutnya disambut seni tari Reog dan tari lainnya.

Tibalah acara yang ditunggu-tunggu yakni penyerahan piala bergilir FRM dan FRNP Suromenggolo yang tentu sudah dinanti-nanti oleh para seniman dan budayawan Reog Ponorogo. Dan kali ini pada FRM, Piala bergilir Suromenggolo berhasil diraih oleh SMPN 2 Kauman Ponorogo dengan nama group Singo Sumo Wicitro dan FNRP berhasil dimenangkan oleh Gajah Manggolo, SMAN 1 Ponorogo.

Usai penyerahan piala bergilir tersebut Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan sengaja menyempatkan hadir pada acara puncak Grebeg Suro karena tidak afdol jika tidak merayakan Grebeg Suro bersama masyarakat Ponorogo, salah satunya adalah Festival Reog Ponorogo.

“Dan kita saksikan bagaimana talenta-talenta dari dalam Ponorogo sendiri dan dari luar Ponorogo, luar biasa bagaimana kecintaannya terhadap Reog. Mudah-mudahan ini dapat terus berkembang,” katanya, di panggung utama Aloon-aloon Ponorogo, Jumat (29/07/2022).

Emil mengungkap semua melihat bagaimana perpaduan antara kesenian dan teknologi. Di layar digital terlihat merak dan gradasi warna yang berubah-ubah dari merah menjadi warna yang bermacam.

“Ini merupakan suatu bentuk kolaborasi dan inovasi yang luar biasa,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyampaikan rangkaian Grebeg Suro dan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo Ke-526 merupakan kebersamaan dengan bergandeng erat, bergerak cepat, menuju Ponorogo hebat. Pada prinsipnya hal itu terjadi dengan meninggalkan baju ego dan gengsi, semata-mata demi kebersamaan.

“Rosul (Nabi Muhammad S.A.W) mengajarkan hijrah, hijrah bukan sekedar fisik. Tapi hijrah mulai dari pola pikir, mindset peradaban dan tentu juga ekonomi,” paparnya.

Di pandemi yang sudah menghimpit selama dua tahun, lanjutnya, membuat Ponorogo merasa kesakitan karena Grebeg Suro tak bisa digelar. Kemudian di sisa-sisa kesakitan karena dirinya harus menjalani isolasi bersama istrinya akibat terpapar covid19 sehingga tidak melonggarkan anggaran karena trauma akibat covid.

“Tapi Alhamdulillah dengan semangat bersama-sama Grebeg Suro bisa kami jalankan,” ucapnya.

Selanjutnya, tak lupa di awal, Judha Slamet Sarwo Edi selaku Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo menyebut menyebut ada sebanyak 52 agenda dalam rangkaian Grebeg Suro dan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Mulai dari segala bentuk kegiatan keagamaan, seni dan budaya serta minat dan hobi semua satu persatu telah terlaksana.

“Yang rata-rata mendapatkan apresiasi dari masyarakat yang luar biasa,” pungkasnya.

Diakhir pagelaran malam puncak Grebeg Suro dan penutupan FRM dan FRNP tahun 2022 juga menampilkan seluruh kesenian yang hidup di Kabupaten Ponorogo. Seperti jaranan Thek, Seni Gajah-gajahan, Seni Kebo-keboan, seni tari kolaborasi. Kemudian suasana bertambah semarak saat kembang api muncul di dua titik secara bergantian dimulai dari panggung utama aloon-aloon Ponorogo dan gedung Graha Krida Praja lantai delapan Pemkab Ponorogo.

Sebagai informasi pada malam puncak Grebeg Suro juga digelar lima pagelaran wayang kulit di 5 titik berbeda. Kemudian musik akustik di Jl. HOS Cokroaminoto dan Jl. Jendral Soedirman.

Selanjutnya di tahun yang akan datang pastilah kita semua bertanya-tanya apakah SMPN 2 Kauman dan SMAN 1 Ponorogo dapat mempertahankan tropinya? Sampai berjumpa kembali pada FRM dan FRNP tahun 2023.

Share This: