Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Reyog Miliki Peluang Lolos Ke UNESCO

Reyog Miliki Peluang Lolos Ke UNESCO

Reyog Ponorogo terus diperjuangkan untuk menjadi Intangible Cultural Heritage (ICH) atau disebut juga Living Cultural Heritage/Warisan Budaya Hidup United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Dalam memantapkan langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama tim penilaian ICH UNESCO adakan rapat insentive dengan Yayasan Reyog Ponorogo, budayawan dan seniman Bumi Reyog di Aula Bappeda Litbang Kabupaten Ponorogo, Rabu (22/12/2021).

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan pihaknya sudah melakukan seminar, Forum Group Discusion (FGD) sampai riset sejak mulai pengusulan pada September lalu.

“Saat ini sudah hadir tim fasilitator dari UNESCO untuk bisa memberi arahan dan merumuskan naskah akademik untuk Reyog ini,” katanya.

Kang Giri sapaan akrab Bupati Ponorogo, mengungkap pengusulan reyog dan pengisian formulir untuk dipaparkan di markas UNESCO di Paris tinggal selangkah lagi. Tenggatnya Maret 2022 mendatang.

“Untuk itu diperlukan pematangan berbagai materi dalam naskah akademik. Mulai dari sisi kesenian, pengaruh sosial, pengaruh ekonomi, hingga bahan baku dalam seni tradisi Reyog itu sendiri,” jelasnya.

Kang Giri menegaskan pihaknya bersama dinas terkait dan Yayasan Reyog Ponorogo serta budayawan dan seniman Reyog di Ponorogo bekerja keras untuk bisa meyakinkan UNESCO.

“Ya Bismillah, kita berharap agar kesenian ciptaan nenek buyut kita warga Ponorogo diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage atau disebut juga Living Cultural Heritage/Warisan Budaya Hidup,” harapnya.

Lebih lanjut Kang Giri menyebut tidak mudah untuk menuju UNESCO karena harus bertempur dan bersaing dengan kebudayaan yang lain. Namun dengan keutuhan Reyog dan keutuhan kesenian Reyog menjadi mimpi rakyat, untuk Reyog bisa masuk UNESCO.

“Didalamnya ada seni tari, disitu ada seni beladiri, disitu ada seni musik mampu memadukan bagaimana pelog slendro yang mestinya dua tampilan, berbagai tampilan berbeda tapi bisa dijadikan satu menjadi sebuah harmonisasi musik yang luar biasa,” paparnya.

Senada dengan Kang Giri, Fasilitator ICH UNESCO Untuk Wilayah Asia-Pasifik Harry Waluyo menyampaikan apabila sejauh pengusulan pengisian formulir untuk masuk dalam daftar WBH ini bisa meyakinkan UNESCO maka peluangnya lolos makin besar. Apalagi sejumlah persoalan Reyog terhadap kelestarian lingkungan seperti pada pemakaian bulu merak bisa diatasi oleh para pegiat Reyog namun disisi lain Reyog memiliki pesaing untuk menuju UNESCO, seperti rendang, tempe, jamu dan lain sebagainya.

“Oleh karena itu mari kita bersaing secara fair, jangan ada celah untuk menurunkan daya saing Reyog ini,” ulasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi menambahkan para pegiat Reyog telah sepakat untuk segera menggelar rembuk agung reyog. Para komunitas sebagai kunci dari keberadaan reyog akan berkumpul untuk membahas berbagai hal terkait pengusulan ini.

“Sebab komunitas reyog sebagai pelaku inilah yang harus bersatu padu menyatukan langkah dan mempertajam paparan reyog dari berbagai sisi. Mulai dari sisi seni tradisi, sisi budaya, sisi sosial hingga sisi perekonomian masyarakat serta kelestarian lingkungan hidup,” pungkasnya.

Share This: