Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Budaya Lebaran Ketupat, Syarat Makna

Budaya Lebaran Ketupat, Syarat Makna

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat suku Jawa dalam merayakan Idul Fitri dengan membuat ketupat di hari ke 7 hari raya nan suci. Tradisi peninggalan nenek moyang ini penuh dengan makna kebersamaan, kerekatan dalam silaturahmi, dengan melepas kesalahan salah antara keluarga, kerabat dan tetangga untuk membuka lembaran baru dalam berinteraksi semasa di dunia.

Filosofi ketupat sendiri berdasarkan informasi yang dihimpun secara acak dari berbagai narasumber memiliki makna yang dalam. Bagi warga bumi Reog ketupat bermakna “Kupat” dalam bahasa Jawa, dengan maksud “Ngaku lepat,” yang artinya mengakui kesalahan.

“Jadi setelah beberapa hari sudah bersilaturahmi ke sanak saudara, ini puncaknya secara simbolis masyarakat membuat Kupat,” kata Miran, salah seorang pembeli Ketupat, di pertigaan Pasar Pahing, Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Selasa (18/05/2021).

Miran menuturkan, berdasarkan budaya yang ada di keluarganya dan mayoritas warga Ponorogo, lebaran ketupat juga memiliki makna “Laku Papat,” yang artinya perilaku empat.

“Itu, Lebaran, Leburan, Luberan, Laburan,” jelasnya.

Keempat makna itu, lanjutnya mengandung arti sebagai berikut :

  1. Lebaran memiliki arti seolah menyatakan bahwa, memakan ketupat maka artinya waktu puasa sudah selesai dan pintu maaf dan ampunan terbuka begitu lebar.
  2. Luberan atau Luber yaitu, melimpah, dapat diartikan sebagai kepedulian sesama manusia dengan cara saling berbagi. Biasanya ketupat juga dibagikan ke tetangga terdekat.
  3. Leburan berarti melebur atau habis, dimaksudkan ketika Idul Fitri maka segala dosa dan kesalahan kita akan diampuni. Karena dalam Islam, diwajibkan untuk saling memaafkan antara satu sama lain.
  4. Laburan yang artinya kapur, kapur selalu meninggalkan jejak putih. Hal tersebut seolah mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik pada sesama dan selalu menjaga kesucian lahir dan batin sesuai perintah Agama.

Selain memiliki makna yang luas, tentu banyaknya warga masyarakat Ponorogo yang membuat ketupat menjadi peluang ekonomi yang bagus. Seperti yang dilakukan Sipur, warga asal Siman, yang menjadi pedagang ketupat dadakan.

“Alhamdulillah, ini tadi sudah banyak yang beli. Ya setahun sekali, daripada diam dirumah,” ungkapnya.

Sipur berharap penjualan ketupat sendiri tak hanya memikirnya untungnya saja namun juga sabagai sarana menjaga dan melestarikan amaliyah tradisi.

“Mudah-mudahan terus begini. Tadi pembeli anak muda semua. Semoga apa yang baik ini bisa terus ada,” pungkasnya.

Share This: