Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Ingin Daftarkan Ke UNESCO, Kang Giri Perlihatkan Reyog Langsung Kepada Peniliti Kemendikbud

Ingin Daftarkan Ke UNESCO, Kang Giri Perlihatkan Reyog Langsung Kepada Peniliti Kemendikbud

Segala upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, menjadikan Reyog dan Ponorogo menjadi warisan dunia. Kali ini, dalam fokus group discustion (FGD) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertujuan untuk memfokuskan pengajuan di bidang seni kebudayaan itu memberikan titik pencerahan untuk mampu membawa Reyog dan Ponorogo masuk sebagai ICH (Intangible Cultural Heritage/Warisan Budaya Tak Benda) di Unesco dan masuk dalam UCCN atau Unesco Creative Cities Network/Jejaring Kota Kreatif Unesco.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko usai menerima tim dari Kemendikbud dan memperlihatkan Reyog secara langsung di Pendopo Agung, Pemkab Ponorogo, rabu (29/9/2021) mengatakan kegiatan itu merupakan upaya bersama dengan Wakil Bupati, Lisdyarita, para pelaku seni dan budaya Reyog, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), Staff ahli Bupati serta harapan dan mimpi masyarakat Ponorogo untuk menjadikan Reyog sebagai warisan tak benda yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia milik Ponorogo.

“Ini Reyog kok fisik kok tak benda, bagaimana? Karena didalam Reyog ada ruh, nah didalam ruh itu ada nilai. Nah, nilai inilah yang disebut Intangible. Tidak bisa diukur dengan harta, tidak bisa diukur dengan duit hanya bisa diukur dengan rasa,” katanya.

Kang Giri, sapaan akrab orang nomor satu Ponorogo itu mengungkap pihaknya bersama-sama memperjuangkan nilai rasa dari Reyog untuk diakui oleh UNESCO.

“Tahun-tahun lalu kan kita gagal, maka hari ini kita tak boleh gagal. Semua pemilik Reyog adalah masyarakat Indonesia dan sudah milik Indonesia. Maka semua harus berjuang. Karena Reyog ini kebudayaan Adiluhung yang komplit, dia ada seni tari, seni topeng, seni drama, ada seni atraksi bela diri, ada seni musiknya, ada okestra, musik angklung,” paparnya.

Kang Giri melanjutkan dengan kelengkapan tersebut pihaknya mengupayakan ke UNESCO agar tidak menjadi kesenian yang hanya menjadi tontonan saja.

“Kita proyeksikan menjadi warisan yang luhur untuk masa depan anak cucu kita yang gemilang dan kita gagah menjadi pemilik Reyog,” tegasnya.

Sementara itu, terkait pagelaran Reyog yang diadakan di Pendopo Agung Pemkab Ponorogo, Kang Giri sengaja memperlihatkan kepada para peserta FGD dari Kemendikbud agar langsung bisa meneliti dan menulis tentang Reyog. Disisi lain, pihaknya juga sudah membentuk tim untuk melakukan kerja untuk mengajukan Reyog ke UNESCO bersama Kemendikbud.

“Biar peneliti melihat Reyog tidak hanya dari video tapi langsung menyaksikan. Oooo, nah O itu kan penting jadi bagaimana melihat langsung atraksinya seperti apa, sehingga jiwanya akan nyantol dan jiwanya akan kena disana. Oleh karenanya, ya sudah kami tidak bercerita saksikan sendiri Reyog,” ucapnya.

Kang Giri berharap Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud bisa mengusulkan Reyog menjadi satu-satunya yang diusulkan ke UNESCO.

“Karena setiap tahun hanya satu, maka kami tidak boleh gagal,” imbuhnya.

Kang Giri menambahkan, meminta doa seluruh masyarakat Ponorogo yang merasa menghanggarbeni Reyog agar pengajuan ke UNESCO mendapat kemudahan dan Ridlo Allah SWT.

“Kepada masyarakat Indonesia yang merasa hanggarbeni Reyog, untuk berdoa dan membantu apa saja. Yang kita lakukan tentunya bukan untuk pencitraan namun untuk kemaslahatan Reyog dan untuk Ponorogo kedepan,” pungkasnya.

Share This: