Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Larungan Telaga Ngebel Tahun Ini Dilakukan Dengan Cara Tidak Biasa

Larungan Telaga Ngebel Tahun Ini Dilakukan Dengan Cara Tidak Biasa

Ponorogo – Larungan Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, di masa pandemi Covid19 berlangsung sakral. Kendati dilakukan di malam hari, Rabu (19/08/2020) dengan peserta terbatas dan hanya sedikit orang yang menyaksikannya, karena harus menyesuaikan standart protokol kesehatan.

Dari pantauan jurnalis Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) kegiatan tahunan yang biasa menyedot perhatian dan kedatangan banyak masa itu dilakukan dengan sederhana. Hal itu terlihat dari tumpeng beras merah (tumpeng agung) yang biasanya berukuran besar dengan tinggi sekitar 1,5 meter dan 2 tumpeng purak besar dengan ketiggian yang sama, kini hanya menggunakan tumpeng kecil. Kemudian tumpeng purak juga ditiadakan. Namun demikian hal tersebut tidak mengurangi aura sakral larung telaga, seperti di masa sebelum pandemi.

Kemudian untuk prosesi larungan, tumpeng diarak memutari telaga. Pada arak-arakan tumpeng, jika biasanya dilakukan dengan berjalan kaki dan dengan jumlah peserta yang banyak. Kali ini tumpeng dinaikan mobil dan dikawal oleh Forkopimka Ngebel, tokoh adat masyarakat Ngebel, perwakilan pendekar pencak silat PSHT, Karang Taruna dan anggota Banser.

Selanjutnya tumpeng beras merah seperti biasa dibawa ke tengah telaga dengan cara dilarung. Namun jika biasanya melibatkan banyak orang dimasa pandemi ini hanya ada satu orang saja yang melarung ke tengah telaga dan untuk bambu larungan berukuran kecil tidak seperti saat kondisi normal. Setelah larungan selesai dilanjutkan dengan doa bersama di pendopo Kecamatan Ngebel.

Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) Hartono Dwijo Abdinagoro, seksi larungan telaga Ngebel mengatakan acara rutin tahunan ini merupakan simbolis rasa syukur masyarakat Ngebel kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang diperoleh oleh masyarakat Ngebel.

“Itu adalah perwujudtan syukur, kepada Allah SWT,” Katanya usai prosesi larungan.

Dengan usainya larungan tersebut Mbah Guru, sapaan akrab KRAT Hartono Dwijo Abdinagoro, berharap masyarakat Kecamatan Ngebel nantinya bisa aman terkendali, tidak terjadi musibah dan bencana.

“Karena hari ini masih terjadi bencana atau musibah Covid19, maka pelaksanaannya lain daripada yang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Yusuf Dharmadi, Camat Ngebel menambahkan tradisi yang sudah turun-temurun dilaksanakan itu merupakan kebutuhan bagi masyarakat Kecamatan Ngebel untuk menyambut satu Suro, dalam rangka memanjatkan doa keselamatan untuk wilayaj Ngebel.

“Untuk tahun ini pelaksaannya berbeda. Dari mulai personel juga berkurang untuk memenuhi protokol dasar pencegahan dan pengendalian Covid19,” Pungkasnya.

Share This: