Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Reyog Harus Menang Di UNESCO

Reyog Harus Menang Di UNESCO

Perjuangkan Reyog menuju Intangible Cultural Heritage / warisan budaya tak benda (ICH) dan UNESCO Creative Cities Network / Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UCCN) terus di maksimalkan. Kali ini, tim kembali lakukan rapat intensif untuk terus persiapkan kelengkapan untuk pengajuan tersebut di ruang rapat Bappeda, Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Kamis (13/01/2022).

Usai mengikuti rapat intensif, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan penyiapan materi harus dilakukan dengan baik dan sempurna.

“Tidak boleh tidak bagus, tidak boleh tidak lembut,” tegasnya.

Bupati Sugiri mengungkap koordinasi lebih lanjut juga perlu dilakukan dengan para pemangku kebijakan, pelaku Reyog, para pelaku akademisi, para peneliti dengan dipandu oleh Hamy Wahjunianto, yang mana sudah menjadi habit, hobi dan dunia Hamy dengan UNESCO. Kemudian bisa menyambungkan seperti apa selera UNESCO.

“Jangan sampai usulan ini kita gagal gara-gara hanya karena salah selera. Yang kita sajikan tidak dikehendaki oleh UNESCO,” ujarnya.

Maka Bupati Sugiri menegaskan pihaknya bersama tim menyiapkan secara runut, secara ilmiah dan terstruktur agar bisa diterjemahkan oleh UNESCO sama seperti yang diharapkan dan tidak boleh tidak lancar, karena semua sudah disiapkan mulai dari niat, kemauan, ilmu dan anggaran yang disediakan negara.

“Tinggal bagaimana merangkai kekuatan-kekuatan itu menjadi satu racikan. Dan mudah-mudahan ini bisa lancar,” harapnya.

Ia mengajak Indonesia berfikir lebih dalam karena menurutnya Reyog merupakan warisan budaya yang sangat luar biasa, lengkap dan komplit. Mulai dari seni tari, seni beladiri, seni topeng, seni musik.

“Apa saja sudah komplit. Maka tidak boleh tidak menang, akhirnya ini sudah bagus. Sehingga harus diterjemahkan secara yang baik sehingga menggambarkan Reyog ini, membaca pun seperti melihat betul”, paparnya.

Sementara itu, Hamy Wahjunianto menyampaikan langkah-langkah sudah dilakukan mulai dari pengisian Dossier yang sesuai standar atau pakem yang di inginkan UNESCO, baik itu Reyog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda, ICH maupun Kota Ponorogo sebagai jaringan kota kreatif dunia UNESCO (UCCN) yang sudah dikerjakan dalam tiga FGD (Forum Group Discusion). Selanjutnya yang kedua adalah penyusunan naskah akademik.

“Penyusunan akademik ini harus didukung oleh research. Research kalau menurut fasilitator satu-satunya yang ada di Indonesia yang ada di UNESCO. Namanya Dr. Hari Waluyo yang kita datangkan. Beliau memberikan masukan agar diadakan research di Ponorogo lalu di Jawa, luar Ponorogo, koordinasi dengan Mas Yuda (Judha Slamet Sarwo Edi, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Ponorogo) nanti ancer-ancernya di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan Reyog Ponorogo diluar Jawa. Nah itu rencananya nanti di Metro, Lampung,” ucapnya.

Ia menambahkan, serangkaian kegiatan itu nantinya akan berujung pada naskah akademik. Kemudian jika pengisian Dossier dan naskah akademik sesuai dengan standard UNESCO maka akan sangat membantu Pemkab dan tim dalam memenuhi syarat pengajuan kepada Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jendral Kebudayaan agar Reyog masuk warisan kebudayaan tak benda.

“Karena sainganya banyak Mas, ada tujuh atau delapan. Salah satunya adalah jamu misalkan. Tempo hari 2018 atau 2019 kita kan bersaing dengan gamelan. Dan belum rezeki kita, akhirnya gamelan yang ditetapkan sebagai ICH UNESCO,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Hamy menyatakan pihaknya belajar dari pengalaman tersebut, tim mencoba kembali dengan harapan Kemendikbud berkenan mengusulkan Reyog Ponorogo karena kerja-kerja yang dilalui sangat luar biasa.

“Kawan-kawan disini juga luar biasa. Mudah-mudahan membuahkan hasil, Kemendikbud berkenan untuk menetapkan Reyog Ponorogo, diusulkan sebagai nominator sebagai ICH UNESCO dari Indonesia,” pungkasnya.

Share This: