Jl. Pramuka No. 19A
(0352) 486012

Sekali Dayung, Pemkab Ponorogo Pecahkan Rekor MURI, Lantik Satgas Protokol Kesehatan dan Layani Vaksin Pada Peserta Gowes HSN

Sekali Dayung, Pemkab Ponorogo Pecahkan Rekor MURI, Lantik Satgas Protokol Kesehatan dan Layani Vaksin Pada Peserta Gowes HSN

Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menerima rekor melalui Museum Rekor Indonesia (MURI) pada perayaan Hari Santri Nasional (HSN). Dengan memecahkan rekor pemrakarsa dan penyelenggara bersepeda mengenakan sarung dan kopiah peserta terbanyak, Minggu (24/10/2021). Selanjutnya, Pemkab sukses ajak vaksin peserta gowes dan bentuk satgas protokol kesehatan.

Penghargaan ini didapat atas gotong-royong santri Nahdlatul Ulama, Muhammadyah, Paguyuban Sepeda Onthel, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pihak Kecamatan dan Desa, serta pecinta sepeda Onthel. Dalam pelaksanaannya sendiri peserta gowes sepeda Onthel dibagi menjadi 6 rute dan 6 titik finish yang membuat para peserta tiba dan meninggalkan lokasi tidak dengan bersamaan karena jarak dan waktu tempuh dari lokasi yang berbeda.

Dari pantauan jurnalis Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) di rute yang dilalui Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, Forkompimda, Paguyuban Sepeda Onthel, perwakilan PCNU dan Muhammadiyah dengan titik start Masjid Tegalsari – Jl. Ki Ageng Kutu – Jl. Letjend Soeprapto – Jl. Bathoro Khatong – Jl. Ahmad Yani, HOS Cokroaminoto – hingga finish di Paseban Aloon-aloon Ponorogo. Peserta gowes nampak semangat mengendarai sepeda. Di titik finish sendiri panitia menyediakan tempat istirahat berupa tenda dari Bank Jatim yang diberi jarak terpisah, kemudian di sediakan konsumsi hingga pelayanan vaksin bagi peserta yang belum vaksin.

Usai melantik satgas Protokol Kesehatan dan menerima penghargaan rekor MURI, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan memperingati hari santri dengan bersepeda santri adalah ingin mengingatkan kepada dirinya dan semuanya bahwa pecahnya 10 November karena resolusi jihad yang didengungkan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Ketika sekutu memboncengi NICA (Netherlands-Indies Civil Administration┬ádisingkat┬áNICA “Pemerintahan Sipil Hindia Belanda”), akan merebut kembali kemerdekaan Indonesia, yang telah di proklamasikan pada 17 Agustus, maka pada 22 Oktober Resolusi Jihad di dengungkan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari,” paparnya.

Kang Giri mengungkap akibat resolusi jihad, rakyat mendidih darahnya untuk mempertahankan kemerdekaan adalah harga mati dan nyawa taruhannya.

“Seluruh unsur elemen, wajib hukumnya jihad. Maka keberanian, seluruh arek-arek Suroboyo, dari Jombang dan darimanapun, pertempuran 10 November pecah. Dan Alhamdulillah kita merdeka sampai sekarang,” tegasnya.

Masih lanjut Kang Giri, jika dahulu jihad adalah melawan penjajah dan sekutu namun hari ini resolusi seperti terniang kemarin sore, sebagai santri baru atau lama harus memiliki jiwa yang patuh dan ta’dim mampu menerjemahkan resolusi.

“Nah, ini yang paling penting. Hari ini kita di utus untuk jihad melawan Covid, maka tidak semua orang patuh pada vaksin, tidak semua orang antusias terhadap vaksin. Maka bagaimana agar semua patuh vaksin, bagaimana semua orang antusias pada vaksin, maka Pemerintah bersama Ulama menyelenggarakan ayo onthelan bareng, vaksin sambil seneng-seneng, sambil olahraga. Maka hari ini ada orang vaksin, luar biasa,” tuturnya.

Ia menambahkan jika covid sudah reda maka tugas selanjutnya adalah jihad melawan kebodohan dan kemiskinan serta ketertinggalan untuk menuju Ponorogo yang lebih baik dan lebih hebat.

“Itu kita lakukan dengan gotong-royong. Saya dan Bunda Rita (Sapaan akrab Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita), dengan Forkompimda, tidak mampu apapun tanpa semuanya santri yang hadir dan ikut memiliki Ponorogo, dimanapun anda berada. Yang sudah jadi Sesmenko tetep santri Ponorogo, monggo bergotong-royong memikirkan Ponorogo, yang sudah jadi Jenderal ikut memikirkan Ponorogo, yang sudah jadi titik Iyek Ponorogo, monggo bergotong-royong memikirkan Ponorogo. Yang sudah menjadi Kiai, yang sudah menjadi wartawan, apa saja yang ada di dalam Ponorogo dan diluar Ponorogo, kami mengundang doanya, kami mengundang gotong-royongnya. Karpet merah kami siapkan, untuk berfikir bersama-sama demi Ponorogo yang kami cintai, menjadi lebih baik dan lebih hebat,” imbuhnya.

Sementara itu, Manager MURI, Sriwidayati menuturkan pihaknya telah mencatat 6.221 orang yang mengikuti rangkaian hari santri bersepeda dan berkopiah terbanyak.

“Ponorogo sudah mencatat sembilan rekor MURI. Di antaranya rekor jathilan terbanyak, pagelaran reog dadak merak, dan seterusnya dan hari ini, Ponorogo, catat Rekor MURI gowes sepeda onta Bersarung-Berkopiah terbanyak” tandasnya.

Share This: